SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi membuka rangkaian Gema Kampus Ramadhan (GKR) 1447 H melalui grand opening yang dirangkaikan dengan salat tarawih berjamaah dan kajian akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Selasa (17/2). Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya berbagai program Ramadhan di lingkungan kampus.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam kajian perdananya mengangkat tema “Muda Berdaya dan Berdampak” yang dirumuskan dalam konsep One Ramadhan. Ia menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan momentum strategis membangun kualitas diri secara utuh.
Mengacu pada Surah Al-Baqarah ayat 183, Harun menekankan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah meraih ketakwaan dengan menjaga tawazun atau keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
“Fokuskan hati, fokuskan untuk Ramadhan. Bukan 50 persen, tetapi 50 persen plus satu kita fokus ke Ramadhan,” ujarnya.
BACA JUGA: Rapimda Pemuda Muhammadiyah Probolinggo Bentuk Tujuh Cabang Baru, Perkuat Sistem Perkaderan Daerah
Ia juga mengajak seluruh civitas academica menjadikan Ramadhan sebagai ruang transformasi diri. Energi negatif, prasangka buruk (suuzan), dan sikap pesimis harus diganti dengan pikiran positif dan husnuzan. Menurutnya, pembiasaan perilaku positif selama Ramadhan menjadi fondasi karakter mahasiswa.
Rektor menekankan pentingnya penyucian qalbu sebagai titik awal perubahan. Keikhlasan dan ketulusan dalam beramal, katanya, menjadi syarat agar setiap kebaikan tidak sia-sia.
“Setiap kali beramal harus disertai keikhlasan agar tidak menjadi mubazir. Ketulusan didasarkan semata-mata fisabilillah. Setiap kebaikan akan dicatat dan dikembalikan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mendefinisikan makna “berdampak” sebagai kebaikan yang berkelanjutan dan memberi manfaat nyata. Konsistensi dalam ibadah, seperti tarawih berjamaah, menjadi contoh praktik keberlanjutan nilai.
“Berkelanjutan saja tidak cukup, tetapi juga harus ada manfaatnya,” tegasnya.
Melalui Gema Kampus Ramadhan 1447 H, UMS berharap mahasiswa tidak hanya menjadi generasi yang aktif secara intelektual, tetapi juga memiliki kontribusi sosial yang nyata dan berkesinambungan bagi masyarakat. Ramadhan, dalam kerangka ini, diposisikan sebagai laboratorium pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa.
Redaksi












