BEKASI — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bekasi menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-VII di Gedung Islamic Center Kota Bekasi, Jumat (6/3/2026). Forum permusyawaratan tertinggi di tingkat cabang ini menjadi momentum penting untuk memperkuat regenerasi kepemimpinan kader sekaligus menegaskan persatuan organisasi setelah polemik dualisme di tubuh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI.
Konfercab tersebut mengusung tema “Reaktualisasi Marhaenisme dalam Regenerasi Kepemimpinan Kader GMNI Bekasi.” Tema ini menegaskan komitmen organisasi untuk memperkuat kaderisasi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai ideologi Marhaenisme yang berpihak pada rakyat kecil.
Ketua DPC GMNI Bekasi menegaskan bahwa konferensi cabang merupakan forum strategis dalam memastikan keberlanjutan kepemimpinan organisasi sekaligus memperkuat solidaritas kader.
“Konfercab ini adalah ajang permusyawaratan tertinggi organisasi untuk merawat ideologi dengan semangat persatuan dan silaturahmi agar kita tetap berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” ujar salah satu pengurus GMNI Bekasi dalam kegiatan tersebut.
Dihadiri Pengurus Pusat dan Alumni
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh GMNI dari tingkat pusat hingga alumni lintas generasi. Di antaranya Ketua Umum DPP GMNI Risyad Fahlefi, Bendahara Umum DPP GMNI Anselmus Ersandy Santoso, serta perwakilan Persatuan Alumni (PA) GMNI.
Selain itu, sejumlah alumni GMNI Bekasi juga hadir sebagai bentuk dukungan terhadap konsolidasi organisasi di tingkat cabang. Kehadiran para alumni dinilai penting dalam memperkuat semangat persatuan kader setelah dinamika organisasi yang terjadi di tingkat nasional.
Konfercab ini juga dihadiri sejumlah pengurus GMNI dari wilayah Bekasi, baik dari Kota Bekasi maupun Kabupaten Bekasi, yang bersama-sama menegaskan komitmen untuk memperkuat soliditas organisasi.
BACA JUGA: Dida Pramida Resmi Pimpin GMNI Palangka Raya 2025–2027, Tegaskan Komitmen Jalankan Trisakti
Penandatanganan Pakta Integritas
Salah satu agenda penting dalam pembukaan Konfercab VII adalah penandatanganan pakta integritas oleh pimpinan organisasi GMNI di wilayah Bekasi. Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Ketua DPC GMNI Bekasi, Ketua DPC GMNI Kota Bekasi, serta Ketua DPC GMNI Kabupaten Bekasi sebagai simbol komitmen menjaga persatuan dan integritas organisasi.
Pakta integritas tersebut menjadi penegasan bahwa kader GMNI di wilayah Bekasi berkomitmen menjaga soliditas organisasi dan menjalankan proses kaderisasi secara demokratis sesuai nilai-nilai perjuangan organisasi.

Rangkaian Acara Konfercab
Konfercab VII GMNI Bekasi dikemas dengan berbagai rangkaian kegiatan yang memadukan unsur formal organisasi, kebudayaan, serta kebersamaan kader.
Acara dibuka dengan penampilan Tari Lenggang Bekasi sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi seremonial seperti menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars GMNI, Hymne GMNI, serta pembacaan teks Pancasila.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda organisasi, termasuk pembukaan resmi Konfercab yang dilakukan oleh Bendahara Umum DPP GMNI.
Momentum ini juga dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi kader untuk memperkuat arah perjuangan organisasi di tingkat daerah.
Persidangan Sempat Diskors
Meski pembukaan Konfercab berjalan lancar, agenda persidangan organisasi untuk sementara waktu berstatus pending atau ditunda setelah sesi pembukaan selesai dilaksanakan.
Penundaan ini dilakukan sebagai bagian dari dinamika organisasi untuk memberikan waktu kepada peserta melakukan konsolidasi internal sebelum memasuki agenda persidangan utama.
“Pembukaan sudah berjalan lancar, namun persidangan masih berstatus pending untuk konsolidasi internal peserta,” ujar salah satu panitia kegiatan.
Dalam tradisi organisasi mahasiswa, penundaan seperti ini sering terjadi sebagai bagian dari proses komunikasi dan penyamaan persepsi antar kader sebelum forum mengambil keputusan penting.
Momentum Konsolidasi Organisasi
Konfercab VII GMNI Bekasi diharapkan tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum konsolidasi ideologis dan organisatoris bagi kader GMNI di wilayah Bekasi.
Dengan berakhirnya polemik dualisme kepemimpinan di tingkat nasional, forum ini menjadi kesempatan penting bagi kader GMNI untuk kembali memperkuat persatuan organisasi serta melanjutkan agenda kaderisasi.
Selain itu, konferensi cabang juga menjadi ruang bagi kader GMNI untuk merumuskan langkah strategis organisasi dalam merespons berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Melalui Konfercab VII ini, GMNI Bekasi diharapkan dapat melahirkan generasi kader baru yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual dan organisatoris, tetapi juga tetap berpegang pada nilai-nilai perjuangan Marhaenisme dalam membela kepentingan rakyat.
*Red












