Setiap ulang tahun organisasi sejatinya adalah jeda untuk bercermin. Pada 5 Februari ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berusia 79 tahun, usia yang menandai kematangan historis sekaligus menguji kedewasaan intelektualnya. Dalam momentum seperti ini, refleksi menjadi lebih bermakna daripada seremoni, sebab sejarah yang panjang tidak selalu identik dengan kejernihan arah.
HMI lahir dari kegelisahan intelektual Lafran Pane atas kondisi umat, bangsa, dan masa depan Indonesia. Ia didirikan bukan untuk melanggengkan kepatuhan, melainkan untuk menumbuhkan keberanian berpikir. Karena itu, refleksi Milad ke-79 seharusnya tidak berhenti pada romantisme sejarah, tetapi berani menyentuh persoalan laten yang hari ini menggerogoti daya hidup gerakan. Salah satunya adalah fenomena yang dalam tulisan ini disebut sebagai kandaisme.
Kandaisme bukan sekadar relasi senior–junior yang tidak seimbang. Ia adalah pergeseran epistemologis, ketika otoritas personal perlahan menggantikan otoritas argumen. Dalam kandaisme, figur “kanda” tidak lagi diposisikan sebagai mitra dialog intelektual, melainkan sebagai pusat rujukan kebenaran. Kritik direduksi menjadi sikap tidak tahu adab, sementara kepatuhan personal justru diberi nilai moral dan politik.
Fenomena ini patut direnungkan serius, terutama dalam konteks usia HMI yang kian matang. Sebab organisasi yang menua tanpa kritik berisiko berubah dari gerakan intelektual menjadi institusi simbolik yang steril dari dialektika.
BACA JUGA: Dari Milad Ke Khidmat: Ibadah Intelektual HMI Untuk Masa Depan Indonesia
Nurcholish Madjid salah satu intelektual besar yang lahir dari rahim HMI pernah mengingatkan bahwa ketika tradisi tidak lagi dikritik, ia akan berubah menjadi berhala. Kandaisme bekerja persis dalam logika ini: sejarah dijadikan legitimasi, bukan bahan refleksi.
Dalam ruang-ruang diskusi organisasi, kita kerap menyaksikan bagaimana perbedaan pandangan disikapi dengan kehati-hatian berlebih, bukan karena lemahnya argumen, tetapi karena kuatnya hierarki. Forum yang seharusnya menjadi ruang pertarungan gagasan perlahan berubah menjadi arena konfirmasi. Di titik ini, dialektika kehilangan fungsinya sebagai jantung gerakan intelektual.
Masalahnya tidak berhenti di internal organisasi. Kandaisme memiliki implikasi struktural ketika HMI bersinggungan dengan kekuasaan. Dalam praktiknya, kesetiaan pada figur senior kerap menjadi jalan pintas menuju lingkar elite, baik politik, birokrasi, maupun ekonomi. Di sinilah analogi “menyembah kandaisme” menemukan relevansinya: kepatuhan personal berfungsi layaknya ritual untuk memperoleh akses dan perlindungan.
Dalam konteks relasi dengan kekuasaan, kandaisme berfungsi sebagai mata uang sosial. Kepatuhan tanpa syarat menjadi tiket masuk ke lingkar elite, sementara sikap kritis justru dipersepsikan sebagai ancaman stabilitas.
Analogi “menyembah kandaisme” menemukan relevansinya di sini: ia menyerupai ritual pengabdian, di mana pengorbanan terbesar bukan tenaga atau waktu, melainkan kemerdekaan berpikir.
Pola ini melahirkan aktor-aktor yang piawai membaca arah angin kekuasaan, tetapi gagap menghadapi perdebatan intelektual. Fazlur Rahman (Baca: Islam and Modernity) pernah menegaskan bahwa kemunduran pemikiran Islam terjadi ketika akal berhenti berfungsi secara etis.
Kandaisme, dalam wajah modernnya, mempercepat proses itu. Kader belajar membaca peta kekuasaan lebih cepat daripada membaca realitas. Yang dipertajam bukan argumentasi, melainkan insting bertahan dalam hierarki.
Akibatnya, kader kritis sering kali berada di pinggiran, sementara mereka yang adaptif terhadap otoritas justru bertahan dan naik ke pusat pengaruh. Dalam jangka pendek, organisasi tampak solid. Namun dalam jangka panjang, yang terjadi adalah defisit intelektual: gagasan stagnan, keberanian menguap, dan fungsi korektif organisasi melemah.
Ahmad Wahib, dalam catatan pergulatan intelektualnya, menunjukkan bahwa iman dan pemikiran justru tumbuh melalui kegelisahan yang jujur. Tanpa kegelisahan itu, gerakan hanya akan melahirkan kepatuhan yang hampa makna. Refleksi ini menjadi penting di usia HMI yang ke-79, ketika tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar loyalitas historis.
Karena itu, Milad HMI seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan kembali satu prinsip dasar: menghormati kanda adalah etika, tetapi mengkultuskannya adalah kesalahan epistemologis. Senioritas harus ditempatkan sebagai tanggung jawab moral untuk membuka ruang dialog, bukan sebagai tembok yang membungkam kritik.
BACA JUGA: Sejarah Berdirinya HMI: Latar Belakang, Peran, dan Dinamika Perkembangan Himpunan Mahasiswa Islam
Kanda yang matang secara intelektual bukan yang paling jarang dipersoalkan, melainkan yang paling siap diuji argumennya.
Jika HMI ingin tetap relevan sebagai organisasi kader umat dan bangsa, maka menghidupkan kembali dialektika adalah keniscayaan. Artinya, membangun ruang di mana kader boleh berbeda tanpa dicurigai, boleh mengkritik tanpa dilabeli tidak tahu diri, dan boleh melampaui seniornya tanpa dianggap durhaka.
Pada usia ke-79 ini, tantangan HMI bukan lagi soal bertahan hidup, tetapi soal menjaga keberanian berpikir di tengah godaan kekuasaan. Sebab sejarah telah cukup panjang membuktikan: gerakan tidak runtuh karena kritik yang keras, melainkan karena nalar yang dibungkam secara halus.
Selamat Milad HMI ke-79. Semoga ia tetap menjadi rumah bagi akal yang merdeka, bukan altar bagi kandaisme yang disembah tanpa tanya.
Penulis: Muhammad Holil
Ketua HMI Komisariat Syariah Cabang Pontianak 2014












