Menu

Mode Gelap
 

Organisasi · 5 Feb 2026 08:40 WIB ·

Milad ke-79 HMI: Ibadah Intelektual sebagai Jalan Kritik dan Pengabdian untuk Indonesia


 Milad ke-79 HMI: Ibadah Intelektual sebagai Jalan Kritik dan Pengabdian untuk Indonesia Perbesar

PONTIANAK — Memasuki usia 79 tahun, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Momentum Milad HMI yang diperingati setiap 5 Februari dimaknai bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan refleksi khidmat perjuangan melalui konsep ibadah intelektual.

Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Kalimantan Barat, M. Said Alkata, dalam tulisannya berjudul “Dari Milad ke Khidmat: Ibadah Intelektual HMI untuk Masa Depan Indonesia” menegaskan bahwa HMI sejak berdiri pada 5 Februari 1947 tidak dilahirkan sebagai organisasi mahasiswa yang pragmatis, apalagi sekadar alat politik praktis. HMI, menurutnya, adalah ruang kaderisasi insan intelektual muslim yang memadukan *iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan tanggung jawab kebangsaan.

Ia menjelaskan bahwa ibadah intelektual merupakan cara pandang yang menempatkan aktivitas berpikir, riset, kajian kebijakan publik, dan pembelaan terhadap kelompok rentan sebagai bagian dari ibadah. Dalam konteks keindonesiaan, kerja intelektual HMI diarahkan untuk menjawab persoalan struktural bangsa, seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, krisis pendidikan, hingga degradasi moral dalam ruang publik.

“HMI tidak boleh berhenti sebagai organisasi protes. HMI harus menjadi organisasi gagasan yang mampu menawarkan alternatif pembangunan yang berkeadilan dan berorientasi pada kemanusiaan,” tegas Said. Menurutnya, pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi harus dimaknai sebagai proses memanusiakan manusia.

BACA JUGA: Sejarah Berdirinya HMI: Latar Belakang, Peran, dan Dinamika Perkembangan Himpunan Mahasiswa Islam

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tauhid menjadi fondasi utama keislaman dan keindonesiaan HMI. Tauhid tidak hanya dimaknai secara teologis, tetapi juga sebagai paradigma intelektual dan etika sosial yang menolak ketidakadilan serta segala bentuk penindasan. Dalam kerangka ini, keterlibatan HMI dalam isu pendidikan, ekonomi, dan kebijakan publik merupakan konsekuensi iman dan tanggung jawab sejarah.

Said berharap, pada usia ke-79 tahun, HMI tetap konsisten menjaga tradisi keilmuan, kejujuran akademik, serta keberanian moral dalam mengawal arah pembangunan nasional. Ia menegaskan bahwa selama intelektualitas dijaga sebagai ibadah, HMI akan tetap relevan sebagai *penjaga nurani publik* dan bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju keadilan dan kesejahteraan.

(*Red/FM berkontribussi pada tulisan ini)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

Baca Lainnya

KAHMI Kalbar dan KAHMI Kubu Raya Gelar Buka Puasa Bersama di Kediaman Wakil Bupati Sukiryanto

9 Maret 2026 - 23:07 WIB

Suasana acara buka puasa KAHMI Kalbar bersama tokoh daerah di Pontianak

Mahasiswa Kalbar Gelar Iftar Akbar di Pendopo Gubernur Pontianak, KMKS dan PRISMA Santuni Anak Panti

9 Maret 2026 - 10:12 WIB

Mahasiswa Kalbar menghadiri kegiatan Iftar Akbar Mahasiswa di Pendopo Gubernur Pontianak bersama organisasi daerah

GMNI Bekasi Gelar Konfercab VII, Momentum Akhiri Polemik Dualisme dan Perkuat Regenerasi Kader

8 Maret 2026 - 19:53 WIB

Peserta menghadiri Konfercab GMNI Bekasi yang membahas regenerasi kepemimpinan kader

PB HMI Umumkan 13 Daerah Calon Tuan Rumah Kongres HMI ke-XXXIII

8 Maret 2026 - 19:00 WIB

Pengurus Besar HMI mengumumkan daerah calon tuan rumah Kongres HMI 2026

Sekda Kalbar Harisson Ingatkan Kader Muda NU Pentingnya Integritas dan Penguasaan IPTEK

8 Maret 2026 - 00:01 WIB

Sekda Kalbar Harisson memberi pesan kepada kader muda NU di Pontianak

Refleksi Harlah ke-72, IPNU Kalbar Satukan Kader dan Alumni Lintas Generasi

7 Maret 2026 - 21:54 WIB

Ketua PW IPNU Kalbar menyampaikan sambutan pada acara Harlah IPNU ke-72
Trending di Organisasi