PONTIANAK — Memasuki usia 79 tahun, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Momentum Milad HMI yang diperingati setiap 5 Februari dimaknai bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan refleksi khidmat perjuangan melalui konsep ibadah intelektual.
Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Kalimantan Barat, M. Said Alkata, dalam tulisannya berjudul “Dari Milad ke Khidmat: Ibadah Intelektual HMI untuk Masa Depan Indonesia” menegaskan bahwa HMI sejak berdiri pada 5 Februari 1947 tidak dilahirkan sebagai organisasi mahasiswa yang pragmatis, apalagi sekadar alat politik praktis. HMI, menurutnya, adalah ruang kaderisasi insan intelektual muslim yang memadukan *iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan tanggung jawab kebangsaan.
Ia menjelaskan bahwa ibadah intelektual merupakan cara pandang yang menempatkan aktivitas berpikir, riset, kajian kebijakan publik, dan pembelaan terhadap kelompok rentan sebagai bagian dari ibadah. Dalam konteks keindonesiaan, kerja intelektual HMI diarahkan untuk menjawab persoalan struktural bangsa, seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, krisis pendidikan, hingga degradasi moral dalam ruang publik.
“HMI tidak boleh berhenti sebagai organisasi protes. HMI harus menjadi organisasi gagasan yang mampu menawarkan alternatif pembangunan yang berkeadilan dan berorientasi pada kemanusiaan,” tegas Said. Menurutnya, pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi harus dimaknai sebagai proses memanusiakan manusia.
BACA JUGA: Sejarah Berdirinya HMI: Latar Belakang, Peran, dan Dinamika Perkembangan Himpunan Mahasiswa Islam
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tauhid menjadi fondasi utama keislaman dan keindonesiaan HMI. Tauhid tidak hanya dimaknai secara teologis, tetapi juga sebagai paradigma intelektual dan etika sosial yang menolak ketidakadilan serta segala bentuk penindasan. Dalam kerangka ini, keterlibatan HMI dalam isu pendidikan, ekonomi, dan kebijakan publik merupakan konsekuensi iman dan tanggung jawab sejarah.
Said berharap, pada usia ke-79 tahun, HMI tetap konsisten menjaga tradisi keilmuan, kejujuran akademik, serta keberanian moral dalam mengawal arah pembangunan nasional. Ia menegaskan bahwa selama intelektualitas dijaga sebagai ibadah, HMI akan tetap relevan sebagai *penjaga nurani publik* dan bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju keadilan dan kesejahteraan.
(*Red/FM berkontribussi pada tulisan ini)












