Gemuruh reformasi 1998 mengukir sejarah kelam dan heroik bagi Trisakti. Dari kampus inilah gelombang perubahan besar dimulai. Kini, lebih dari dua dekade pasca-reformasi, gelombang lain muncul gelombang prestasi yang mencatatkan nama-nama alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Universitas Trisakti di puncak pemerintahan.
Diangkatnya Maman Abdurrahman (Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi) sebagai Menteri Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) lalu Akmal Budi Yulianto ( Fakultas Tekhnik Informatika ) sebagai Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional ( BPKN ) dan beberapa alumni yang telah ada di Lembaga yudikatif dan legislatif, bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah puncak gunung es dari sebuah tradisi kepemimpinan panjang yang dibentuk di rahim organisasi tertua ini.
Kondisi HMI Trisakti saat ini bisa dibilang sedang berada pada “peak performance”-nya. Puncak ini bukan sekadar karena prestasi individu saja, tetapi karena adanya “pipeline” atau alur regenerasi yang bertumbuh sporadic lewat individu-individu yang merangkul kekolektifan group yang sevisi.
Mereka tidak hanya mencetak kader yang cerdas secara intelektual tetapi juga yang tangguh secara mental, lihai secara sosial, dan memiliki basis nilai keislaman serta kebangsaan yang kokoh (Di kancah nasional, nama-nama seperti Muhamad Alipudin (Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi) sebagai pengusaha nasional dan Yapit Sapta Putra ( Fakultas Ekonomi ), sebagai anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas ) periode 2021 -2025, juga turut memperkuat narasi ini.
BACA JUGA: Sejarah Berdirinya HMI: Latar Belakang, Peran, dan Dinamika Perkembangan Himpunan Mahasiswa Islam
Lantas, apa rahasianya? Lingkungan kampus Trisakti yang plural, gaul, dinamis, dan dekat dengan denyut nadi ekonomi-politik ibukota, menjadi laboratorium kepemimpinan yang nyata. HMI di dalamnya berfungsi sebagai “kawah candradimuka” yang mendidik dan mendistribusikan kadernya untuk tidak hanya berwacana di kelas, tetapi juga menganalisis realitas, berdebat dengan data, dan membangun jaringan yang bermakna.
Betapa tidak , kampus Trisakti ini di tahun 90 – an mahasiswanya identik dengan gaul dengan pertanyaan “harga velg mobil berapa ?”. Masuknya HMI di kampus biru ini menjadi warna minoritas di tengah hedonnya mahasiswa-mahasiwinya yang modis bak model berjalan di cat walk.
Akan tetapi narasi yang dalam , dan bernilai dalam ke tauhidan, menjadi tawaran perjalanan spiritual di kampus tersebut, sebuah pencarian unik untuk mengenal diri sendiri, mengenal Allah SWT.

Menurut Imam Ghazali “rusaknya masyarakat ketika nilai nilai agama diganti dengan syahwat dan materi. Orang yang orientasi hidupnya syahwat dan materi biasanya mengejar kesenangan saja dan abai akan nilai.”
Benturan nilai hedon yang melebur kepada Allah lah yang menjadi nilai otentik HMI Komisariat Universitas Trisakti. Mereka berjuang mengalahkan ego dan humble down to earth agar dapat bermanfaat kepada khalayak banyak.
Namun untuk alumni yang tidak berada di karir public, Inilah pesan terpenting: Jangan pernah minder jika saat ini Anda merasa “bukan siapa-siapa. Jabatan dan pencapaian eksternal hanyalah satu bagian kecil dari definisi kesuksesan. Inti dari perkaderan adalah membangun manusia yang utuh—yang tahu jati dirinya, yang tahu nilainya, kokoh prinsipnya, dan tetap berkarya dengan elegan, berdiri di kaki sendiri, tanpa menggantungkan harga diri pada pengakuan orang lain. Sebab tanpa mereka yang berprestasi kita masih ada, maupun sebaliknya.
BACA JUGA: Milad ke-79 HMI: Antara Tradisi Intelektual dan Godaan Kandaisme
Oleh karena itu kita harus masukkan dalam mindset bahwa Ketika perbuatan kita tidak ikhlas untuk Allah, itu ternyata akan selalu ada juga manfaatnya untuk kita manusia. Keikhlasan yang sejati terkait dengan tauhid, yakni keyakinan bahwa semua aspek kehidupan dan wujud berasal dari Allah, maka sebaiknya , sesadar-sadarnya kita memasukkan kesadaran keikhlasan kita kepada sang sumber akan kemaha hadiranNya.
Pertanyaannya kini: Bagaimana generasi Trisakti saat ini dan kedepannya bisa meneruskan bahkan melampaui prestasi ini?. Pemateri Nilai Dasar Perjuangan ( NDP ), Budi Setiawan ( Fakultas Hukum), pendiri Football Institute, sewaktu dulu mengisi materi follow up LK1 mengatakan “ Dedikasi kan full sampai akhir dirimu itu lebih baik dalam menjalani suatu organisasi”.
Puncak prestasi ini justru menjadi tantangan tersendiri. Ekspektasi publik semakin tinggi. Dalam life cycle suatu organisasi maupun individu pasti akan ada naik dan turun , yang pasti terdikotomi oleh penetrasi kepentingan-kepentingan. , Apakah ada legacy kebawah ,kesamping atau plot twist yang asik. Kita akan saksikan di 2029. Wallahu A’lam Bishawab.
Penulis: Nandar C. Ibrahim, KAHMI Komisariat Univ. Trisakti












