Di era algoritma, kemarahan bergerak lebih cepat daripada klarifikasi. Apa yang awalnya hanya percikan komentar di platform X dapat berubah menjadi gelombang sentimen lintas negara dalam hitungan jam.
Polemik antara sebagian warganet Korea Selatan yang kerap disebut Knetz dan masyarakat Asia Tenggara (SEA) menjadi contoh bagaimana ruang digital mampu membesar-besarkan konflik simbolik hingga terasa seperti persoalan regional.
Peristiwa ini bermula dari dinamika sederhana di ruang hiburan. Namun di tangan media sosial, konteks sering kali menguap, sementara emosi justru menguat.
Sindiran yang mungkin dilontarkan oleh segelintir individu segera dipersepsikan sebagai representasi satu bangsa. Respons yang muncul pun tidak lagi personal, melainkan kolektif—membawa serta harga diri kawasan.
Media sosial bukan sekadar tempat berbagi pendapat. Ia adalah mesin amplifikasi. Algoritma dirancang untuk mempromosikan konten yang memicu interaksi, dan tidak ada yang lebih cepat memancing interaksi selain kemarahan.
Ketika satu komentar dianggap merendahkan, tangkapan layar menyebar, tagar bermunculan, dan opini publik terbentuk sebelum klarifikasi mendapat ruang.
Pertanyaannya, apakah ini benar-benar konflik antarbangsa? Ataukah sekadar benturan ego digital yang diperbesar oleh sistem yang memang mengutamakan sensasi?
Relasi antara Korea Selatan dan negara-negara Asia Tenggara sejatinya dibangun di atas fondasi kerja sama ekonomi, investasi, pendidikan, serta pertukaran budaya yang telah berlangsung lama.
Asia Tenggara menjadi salah satu pasar terbesar industri hiburan Korea, sementara Korea juga merupakan mitra strategis di berbagai sektor pembangunan kawasan. Kepentingan bersama tersebut jauh lebih konkret dibandingkan polemik warganet yang bersifat sesaat.
Namun ruang digital jarang memberi tempat bagi proporsionalitas. Komentar satu individu dapat dianggap sebagai cerminan sikap kolektif. Di sisi lain, respons balasan yang emosional justru memperpanjang konflik simbolik. Ketika sindiran dibalas sindiran, yang dipertaruhkan bukan lagi substansi, melainkan ego.
BACA JUGA: Normalisasi Pelanggaran Etik Media di Era Konten Cepat
Fenomena “Knetz vs SEA” menunjukkan bahwa nasionalisme di era digital memiliki karakter berbeda: cepat tersulut, mudah menyebar, dan sering berdiri di atas persepsi yang belum tentu utuh. Nasionalisme semacam ini cenderung defensif dan reaktif, bukan reflektif.
Di sinilah pentingnya literasi digital. Masyarakat perlu mampu membedakan antara opini individu dan kebijakan resmi negara, antara provokasi sesaat dan realitas hubungan diplomatik yang lebih kompleks. Tanpa kemampuan tersebut, ruang digital akan terus menjadi ladang konflik identitas yang berulang.
Kritik tentu boleh disampaikan. Kebebasan berekspresi adalah bagian dari masyarakat demokratis. Namun kritik yang dibangun di atas generalisasi berpotensi merusak dialog. Mengaitkan perilaku segelintir orang dengan karakter seluruh bangsa merupakan bentuk penyederhanaan yang tidak adil.
Komunikasi lintas budaya memang rentan terhadap salah tafsir. Perbedaan gaya humor, ekspresi, dan norma sosial dapat memunculkan sensitivitas. Tanpa kesadaran konteks, komentar pribadi dapat diterima sebagai penghinaan kolektif.
Pada akhirnya, algoritma tidak memiliki nasionalitas—ia hanya bekerja berdasarkan emosi. Semakin marah kita, semakin luas jangkauannya. Dalam logika itu, yang diuntungkan bukanlah harga diri bangsa, melainkan sistem yang memonetisasi perhatian.
Kedewasaan sebuah bangsa tidak diuji saat dipuji, melainkan saat disindir. Dan mungkin, di era algoritma ini, keberanian terbesar bukanlah membalas—melainkan memilih untuk tidak terpancing.
Penulis: Tiwi Dima Saputri
Mahasiswi Keperawatan Universitas Muhamadiyah Kalimantan Timur (UMKT)
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Rahmat Al Kafi












