BANDUNG — Praktik intimidasi terhadap aktivis mahasiswa kembali mencuat dan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kondisi demokrasi di Indonesia. Ketua Umum BADKO HMI Jawa Barat, Siti Nurhayati Barsasmy, mengaku mengalami teror dari orang tak dikenal (OTK) setelah menyuarakan kritik terhadap kasus kekerasan terhadap aktivis HAM.
Teror tersebut muncul usai Siti mengunggah pernyataan kritis terkait dugaan aktor intelektual di balik kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Tidak hanya menyasar dirinya secara personal, ancaman juga menyentuh ranah keluarga. Siti mengungkapkan bahwa ia menerima pesan WhatsApp dari nomor asing yang memintanya untuk berhenti bersuara, bahkan menyebut lokasi keberadaan ibunya sebagai bentuk tekanan serius.
Selain itu, serangan digital juga terjadi melalui akun anonim yang membanjiri media sosial BADKO HMI Jabar dengan pesan intimidatif dan ancaman terhadap organisasi.
Pola Represi dan Ancaman terhadap Kebebasan Bersuara
Kasus ini memperlihatkan pola berulang: ketika suara kritis muncul, tekanan datang baik secara langsung maupun digital. Fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai kasus individual semata, melainkan indikasi melemahnya ruang demokrasi.
Siti menilai tindakan intimidasi terhadap aktivis merupakan sinyal kemunduran demokrasi, terutama ketika kritik publik dibalas dengan ancaman fisik maupun psikis.
“Teror ini bukan hanya serangan personal, tetapi juga ancaman terhadap kebebasan berpendapat,” demikian substansi sikap yang disampaikan.
BACA JUGA: Badko HMI Kalbar Pertanyakan Kinerja Menteri UMKM RI, Program Banyak, Dampak Nyaris Tak Terasa
Mahasiswa Tidak Gentar
Alih-alih mundur, BADKO HMI Jabar justru menyatakan akan meningkatkan eskalasi gerakan. Teror yang terjadi dinilai sebagai bukti bahwa kritik yang disuarakan berada pada titik yang sensitif dan relevan.
Sikap organisasi ditegaskan:
- Tidak tunduk pada intimidasi
- Teror dianggap sebagai pemicu semangat perjuangan
- Kritik terhadap ketidakadilan akan terus diperkuat
“Semakin diteror, kami akan semakin vokal,” menjadi garis sikap yang ditegaskan.
Arah Gerakan dan Tekanan Publik
BADKO HMI Jabar juga membuka kemungkinan untuk melakukan aksi massa sebagai bentuk tekanan publik, sembari tetap mengawal kasus kekerasan terhadap aktivis yang belum tuntas.
Fokus utama, menurut mereka, bukan pada teror yang dialami, melainkan pada pengungkapan aktor intelektual di balik kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM.
Situasi ini menempatkan aparat penegak hukum pada sorotan: apakah mampu menjamin keamanan warga negara yang menyampaikan kritik, atau justru membiarkan praktik intimidasi terus berlangsung.
*Red










