PALANGKA RAYA – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Palangka Raya menggelar agenda Konsolidasi Demokrasi dengan menggandeng Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Palangka Raya. Diskusi intensif ini mengangkat tema strategis, “Pengawasan Partisipatif Berbasis Gerakan Mahasiswa”, Kegiatan tersebut bertujuan merumuskan kembali peran konkret mahasiswa dalam menjaga integritas proses demokrasi di Kota Cantik. Rabu (18/02/2026)
Dalam forum itu ditegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Bawaslu mendorong peningkatan peran mahasiswa dalam tiga aspek utama:
- Agen literasi, yakni mengedukasi pemilih di lingkungan kampus dan keluarga.
- Kekuatan penekan (pressure group), berani melaporkan indikasi pelanggaran tanpa rasa takut.
- Pengawal teknis, memahami regulasi guna meminimalkan kesalahan prosedur di lapangan.
BACA JUGA: Sejarah GMNI: Latar Belakang, Perkembangan, dan Peran Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
DPC GMNI Palangka Raya turut menyampaikan catatan kritis dan konstruktif. Ketua Cabang GMNI Dida Pramida menegaskan agar Bawaslu tidak terjebak pada seremoni formal semata, melainkan menyentuh langsung basis masyarakat.
“Bawaslu perlu mensosialisasikan pengawasan ini hingga ke akar rumput. Libatkan golongan mahasiswa secara aktif—baik Kelompok Cipayung, BEM, maupun Himpunan Mahasiswa (Hima) sebagai mitra taktis untuk menjangkau masyarakat yang sulit diakses birokrasi,” tegas Ketua DPC GMNI Palangka Raya.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah efektivitas pelaksanaan pada hari pemungutan suara. Bawaslu dan GMNI sepakat bahwa pemahaman mendalam harus dimiliki seluruh elemen, mulai dari masyarakat pemilih hingga badan penyelenggara ad hoc. Ketelitian menjadi harga mati.
Pemahaman teknis yang kuat di tingkat bawah diperlukan agar tidak terjadi kesalahan prosedur yang berpotensi memicu Pemungutan Suara Ulang (PSU), yang dinilai merugikan efisiensi dan legitimasi demokrasi.
Ketua Bawaslu Kota Palangka Raya menutup diskusi dengan harapan konsolidasi ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
“Melalui konsolidasi demokrasi ini, kami berharap lahir pemilih-pemilih cerdas di Palangka Raya. Pemilih yang tidak hanya memberi suara, tetapi juga memahami haknya dan berani mengawasi jalannya proses pemilihan agar tetap jujur dan adil,” ujarnya.
(*Red/Dp berkontribusi dalam tulisan ini)

Kontributor Mahasiswa adalah penulis dari kalangan mahasiswa yang mengirimkan karya untuk kepentingan akademik dan publikasi di aktivismahasiswa.com.












