Perubahan kebijakan Pendidikan di Indonesia melalui kurikulum merdeka membawa semangat baru dalam proses pembelajaran salah satu nya melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Konsep ini menuntut guru untuk mampu memahami perbedaan karakteristik, minat, serta gaya belajar setiap peserta didik.
Namun implementasi konsep tersebut tentu tidak dapat berjalan optimal tanpa adanya system pendampingan yang terarah dan ber kelanjutan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMP Lab school FIP UMJ, dapat di lihat bahwa supervise akademik memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi.
Supervise di sekolah ini tidak dipahami sebagai bentuk pengawasan yang menekan, melainkan sebagai peroses pembinaan perofesional yang dilakukan secara sistematis dan kolaboratif.
Pelaksanaa supervise dilakukan melaui tahapan yang jelas yaitu pra-observasi, observasi dan pasca observasi. pada tahapan pra-observasi guru dan supervisor berdiskusi mengenai perangkat ajar, strategi pembelajaran serta tujuan yang ingin dicapai.
BACA JUGA: Tak Sekadar Akademik, Tio Rizki Kurniawan Aktivis Muda Kalbar Uji Tesis Soal Rokok Tanpa Cukai
Tahap observasi dilakukan secara langsung di kelas untuk melihat proses pembelajaran berlangsung khususnya dalam penerapan diferensiasi sesuai kebutuhan siswa. Selanjutnya pada tahap pasca observasi, dilakukan refleksi Bersama untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Pendekatan supervisi yang digunakan bersifat non-direktif dengan pola coaching. Artinya supervisor lebih banyak mengajajk guru untuk merefleksikan praktik pembelajaran yang telah dilakukan di bandingkan memberikan instruksi secara sepihak pendekatan ini menciptakan suasana yang terbuka dan saling menghargai, sehinggga guru merasa di damping dalam proses pengembangan kompetensi bukan sekedar di nilai.
Dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi guru melakukan asesmen di agnostic untuk mengidentifikasi gaya belajar siswa seperti visual, auditori, dan kinestetik.
Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi pembelajaran yang bervariasi baik pada aspek, materi, peroses, maupun produk pembelajaran. Selain itu pendekatan deep learning juga diterapkan agar siswa tidak hanya memahami materi secara permukaan, tetapi mampu mengaitkan dengan konteks kehidupan nyata.
Hasil observasi menunjukkan bahwa pendekatan ini memberikan dampak positif terhadap keterlibatan dan motivasi belajar sisiwa terlihat lebih aktif dan memiliki kesempatan untuk belajar sesuai potensi masing-masing.
Meski demikian terdapat tantangan yang dihadapi seperti keterbatasan waktu dan beban guru. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah membangun budaya berbagi melalui diskusi rutin dan forum ferleksi antar guru
Menurut pendapat saya praktik supervise akademik yang diterapkan di SMP Lab school FIP UMJ menunjukkan bahwa keberhasilan kurikulum merdeka sangat bergantung pada kualitas pendampingan guru di tingkat satuan Pendidikan.
Supervisi yang humaris, relatif, dan berkelanjutan mampu menjadi jembatan antara kebijakan nasional dengan realitas pembelajaran di kelas.
Dengan demikian supervise akademik tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi sebagai sarana penguatan profesionalisme guru.
Apabila pola ini dapat diterapkan secara konsisten di berbagai sekolah, maka pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya menjadi konsep normatif dalam dokumen kurikulum, melainkan benar- benar terwujud dalam praktik pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.
Penulis: Azzahra Enok Alifah, NIM: 2486207008
Mahasiswi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)
Univ. Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (UPTIQ) Jakarta
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Rahmat Al Kafi












