Nama R.A. Kartini hampir selalu hadir setiap April sebagai simbol emansipasi perempuan Indonesia. Namun di luar seremoni tahunan, ada pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana gagasan Kartini benar-benar hidup dalam realitas perempuan Bugis-Makassar hari ini, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia?
Perempuan Bugis-Makassar tidak bisa dilihat dalam kerangka yang sederhana. Dalam tradisi yang diwariskan turun-temurun, mereka memiliki posisi penting sebagai penjaga nilai keluarga dan kehormatan.
Konsep siri’ menempatkan perempuan dalam posisi yang strategis, bukan sekadar domestik, tetapi juga sebagai simbol martabat yang harus dijaga.
Namun posisi kultural yang kuat ini tidak otomatis berarti akses yang setara dalam praktik kehidupan modern.
Di sinilah pentingnya membaca ulang Kartini bukan sebagai simbol, tetapi sebagai gagasan yang diuji dalam realitas sosial yang terus berubah.
Pendidikan: Antara Kesempatan dan Batas Tak Terlihat
Secara umum, akses pendidikan bagi perempuan Bugis-Makassar sudah jauh lebih terbuka dibanding masa lalu.
Banyak yang menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga ke luar daerah. Secara angka, kesenjangan dengan laki-laki semakin menipis.
Tetapi persoalan tidak berhenti pada akses formal. Ada batas-batas tidak tertulis yang masih memengaruhi keputusan perempuan dalam pendidikan.
Tekanan ekonomi keluarga, ekspektasi untuk menikah pada usia tertentu, hingga pandangan bahwa perempuan tidak perlu terlalu tinggi mengejar pendidikan, masih menjadi faktor yang membatasi.
Dalam konteks ini, gagasan Kartini tentang pendidikan sebagai alat pembebasan belum sepenuhnya terwujud.
Pendidikan sering kali berhenti pada capaian administratif—ijazah—tanpa benar-benar menjadi alat untuk menentukan arah hidup secara mandiri.
Padahal, Kartini menekankan pentingnya berpikir merdeka. Jika perempuan memiliki akses pendidikan tetapi tidak memiliki ruang untuk menentukan pilihan hidupnya, maka substansi emansipasi belum tercapai.
Ini menunjukkan bahwa tantangan hari ini bukan lagi soal membuka pintu sekolah, tetapi memastikan pendidikan benar-benar memberi dampak pada posisi sosial perempuan.
Peran Sosial: Negosiasi antara Tradisi dan Realitas Baru
Perempuan Bugis-Makassar hari ini berada dalam posisi yang kompleks. Mereka hidup dalam tradisi yang kuat, tetapi juga berada dalam arus perubahan sosial yang cepat.
Di satu sisi, nilai-nilai budaya tetap menempatkan perempuan sebagai penjaga rumah tangga. Di sisi lain, realitas ekonomi dan sosial mendorong mereka untuk aktif di ruang publik.
Fenomena perempuan bekerja, berwirausaha, hingga terlibat dalam organisasi bukan lagi hal baru. Namun ini tidak serta-merta menghapus ekspektasi tradisional.
Banyak perempuan justru menjalani peran ganda: tetap memikul tanggung jawab domestik, sekaligus berkontribusi secara ekonomi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bersifat adaptif, bukan transformasional. Perempuan tidak sepenuhnya keluar dari struktur lama, tetapi menyesuaikan diri di dalamnya.
Jika dibandingkan dengan konteks yang dihadapi Kartini, tantangan hari ini lebih halus. Tidak ada larangan eksplisit, tetapi ada standar sosial yang membentuk pilihan.
Perempuan yang terlalu fokus pada karier bisa dianggap mengabaikan peran tradisional, sementara yang memilih domestik sering dianggap kurang progresif.
Dalam situasi seperti ini, kebebasan menjadi relatif. Perempuan terlihat memiliki pilihan, tetapi pilihan itu tetap dibatasi oleh ekspektasi sosial yang kuat.
Membaca Ulang Kartini dalam Konteks Bugis-Makassar Modern
Membawa pemikiran Kartini ke dalam kehidupan perempuan Bugis-Makassar tidak bisa dilakukan secara mentah. Perbedaan latar budaya dan sejarah membuat pendekatannya harus kontekstual.
Jika tidak, Kartini hanya menjadi simbol nasional tanpa daya guna nyata.
Yang relevan untuk dibaca ulang adalah nilai dasarnya: pendidikan, kemandirian berpikir, dan keberanian untuk menentukan pilihan hidup.
Nilai-nilai ini tidak bertentangan dengan budaya Bugis-Makassar, tetapi implementasinya sering kali berbenturan dengan realitas sosial.
Hari ini, sebagian perempuan Bugis-Makassar telah menunjukkan perubahan signifikan—lebih berpendidikan, lebih aktif di ruang publik, dan lebih berani menentukan arah hidup.
Namun perubahan ini belum merata. Masih ada kesenjangan antara mereka yang memiliki akses dan yang tidak, antara yang berada di pusat aktivitas ekonomi dan yang berada di pinggiran.
Dalam konteks ini, Kartini tidak lagi relevan sebagai simbol perjuangan masa lalu, tetapi sebagai alat ukur untuk melihat sejauh mana perempuan benar-benar memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi apakah perempuan sudah “boleh” maju, tetapi apakah mereka benar-benar bebas menentukan pilihan tanpa tekanan yang membatasi secara tidak terlihat.
Penulis: Azmi Januariza | Bendahara Umum Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (IKAMI SULSEL) Cabang Pontianak.
Editor: Dzulkarnaen
Dukung kami melalui donasi:




Komentar