Jakarta – Indonesia diperkirakan akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang bahkan dijuluki “Godzilla”. Prediksi tersebut disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang memperkirakan dampak signifikan terhadap pola cuaca nasional, terutama berupa musim kemarau yang lebih panjang dan kering.
Fenomena ini diprediksi akan paling terasa di wilayah barat dan selatan Indonesia, yang berpotensi mengalami penurunan curah hujan secara drastis dalam beberapa bulan ke depan.
Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko kesehatan yang dapat muncul akibat kemarau panjang.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan surat edaran sebagai bentuk kesiapsiagaan sektor kesehatan dalam menghadapi dampak El Nino ekstrem.
Surat edaran tersebut akan ditujukan kepada dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, serta fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas di seluruh Indonesia.
BACA JUGA: Krisis Lingkungan di Era Modern: Antara Eksploitasi dan Kesadaran Baru
Menurut Aji, musim kemarau panjang berpotensi memperburuk kualitas udara. Rendahnya curah hujan akan mengurangi proses alami pembersihan polutan di atmosfer, sehingga partikel berbahaya dapat bertahan lebih lama di udara.
Kondisi cuaca cerah yang disertai angin lemah juga dapat memperparah situasi, karena polutan tidak terdispersi dengan baik. Akibatnya, konsentrasi polusi udara berisiko meningkat dan berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Selain itu, pemerintah juga mewaspadai peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah rawan. Kebakaran tersebut berpotensi menimbulkan kabut asap yang dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan gangguan pernapasan.
Dari sisi penyakit, perubahan pola cuaca yang ekstrem juga dapat memicu peningkatan penyakit tular vektor seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Kondisi lingkungan yang berubah dapat menciptakan habitat baru bagi vektor penyakit.
Tidak hanya itu, kekeringan yang berkepanjangan juga berpotensi menurunkan kualitas air dan sanitasi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, tifoid, kolera, hingga leptospirosis.
Dengan berbagai potensi dampak tersebut, kesiapsiagaan menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh fenomena El Nino ekstrem.
(MZB)
Dukung kami melalui donasi:




Komentar