Jakarta – Isu legitimasi publik Indonesia terhadap perang Amerika–Israel melawan Iran mengemuka dalam forum Rilis Survei Nasional dan Diskusi Publik yang digelar oleh Indikator Politik Indonesia (IPI), Lembaga Survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Kamis (2/4/2026).
Dalam forum tersebut dipaparkan hasil survei nasional yang menyoroti bagaimana publik Indonesia memandang perang yang kini berdampak luas secara global, terutama pada sektor keamanan dan energi.
Hasil survei menunjukkan bahwa legitimasi publik terhadap perang tidak dapat dilihat secara sederhana. Penilaian publik diukur melalui tiga dimensi utama, yakni dukungan terhadap serangan, pembenaran alasan perang, serta sikap terhadap kebijakan pemerintah Indonesia terkait konflik tersebut.
Diskusi dalam forum juga menekankan bahwa dalam sistem demokrasi, legitimasi publik menjadi faktor krusial dalam menentukan arah kebijakan negara. Keputusan politik, khususnya terkait konflik internasional, tidak hanya bergantung pada elite, tetapi juga pada penerimaan masyarakat.
Secara global, perbedaan sikap publik terlihat jelas. Di Israel, mayoritas publik mendukung serangan terhadap Iran, sementara di Amerika Serikat justru mayoritas publik tidak mendukungnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa legitimasi perang bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik masing-masing negara. Sejumlah negara demokrasi lain bahkan cenderung menolak keterlibatan dalam konflik tersebut.
Dalam konteks Indonesia, forum ini menegaskan pentingnya membaca opini publik sebagai dasar pertimbangan kebijakan luar negeri. Tanpa dukungan atau pembenaran dari publik, setiap langkah pemerintah dalam merespons konflik berpotensi kehilangan legitimasi demokratis.
Diskusi publik ini sekaligus menegaskan bahwa perang Amerika–Israel melawan Iran bukan hanya persoalan geopolitik global, tetapi juga menjadi ujian bagi konsistensi demokrasi dalam merespons konflik internasional.
(Dz/Mzb)










