Menu

Mode Gelap
 

Sosial & Demokrasi · 2 Apr 2026 09:12 WIB ·

Dibahas dalam Forum Nasional, Legitimasi Publik Indonesia atas Perang Amerika–Israel Dinilai Problematis


 Foto: Founder SMRC, Prof. Saiful Mujadi, Ph.D. dalam Forum diskusi nasional memaparkan hasil survei tentang sikap publik Indonesia terhadap konflik Amerika–Israel dan Iran. Perbesar

Foto: Founder SMRC, Prof. Saiful Mujadi, Ph.D. dalam Forum diskusi nasional memaparkan hasil survei tentang sikap publik Indonesia terhadap konflik Amerika–Israel dan Iran.

Jakarta –  Isu legitimasi publik Indonesia terhadap perang Amerika–Israel melawan Iran mengemuka dalam forum Rilis Survei Nasional dan Diskusi Publik yang digelar oleh Indikator Politik Indonesia (IPI), Lembaga Survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Kamis (2/4/2026).

Dalam forum tersebut dipaparkan hasil survei nasional yang menyoroti bagaimana publik Indonesia memandang perang yang kini berdampak luas secara global, terutama pada sektor keamanan dan energi.

Hasil survei menunjukkan bahwa legitimasi publik terhadap perang tidak dapat dilihat secara sederhana. Penilaian publik diukur melalui tiga dimensi utama, yakni dukungan terhadap serangan, pembenaran alasan perang, serta sikap terhadap kebijakan pemerintah Indonesia terkait konflik tersebut.

BACA JUGA: Studi Princeton–SMRC: Media Sosial Terbukti Berdampak Negatif pada Kesehatan Mental, Berhenti Jadi Solusi

Diskusi dalam forum juga menekankan bahwa dalam sistem demokrasi, legitimasi publik menjadi faktor krusial dalam menentukan arah kebijakan negara. Keputusan politik, khususnya terkait konflik internasional, tidak hanya bergantung pada elite, tetapi juga pada penerimaan masyarakat.

Secara global, perbedaan sikap publik terlihat jelas. Di Israel, mayoritas publik mendukung serangan terhadap Iran, sementara di Amerika Serikat justru mayoritas publik tidak mendukungnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa legitimasi perang bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik masing-masing negara. Sejumlah negara demokrasi lain bahkan cenderung menolak keterlibatan dalam konflik tersebut.

Dalam konteks Indonesia, forum ini menegaskan pentingnya membaca opini publik sebagai dasar pertimbangan kebijakan luar negeri. Tanpa dukungan atau pembenaran dari publik, setiap langkah pemerintah dalam merespons konflik berpotensi kehilangan legitimasi demokratis.

Diskusi publik ini sekaligus menegaskan bahwa perang Amerika–Israel melawan Iran bukan hanya persoalan geopolitik global, tetapi juga menjadi ujian bagi konsistensi demokrasi dalam merespons konflik internasional.

(Dz/Mzb)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Impunitas, dan Ilusi Negara Hukum: Membaca Kasus Andrie Yunus

1 April 2026 - 13:05 WIB

Aktivis Disiram Air Keras, PB IKAMI Sulsel Desak APH Usut Tuntas Kasus Andrie Yunus

30 Maret 2026 - 16:46 WIB

Studi Princeton–SMRC: Media Sosial Terbukti Berdampak Negatif pada Kesehatan Mental, Berhenti Jadi Solusi

27 Maret 2026 - 04:08 WIB

Ilustrasi penggunaan media sosial terkait dampak media sosial mental pada pengguna muda

Oknum Fungsionaris PB HMI Dilaporkan atas Dugaan Pelecehan, Kasus Viral di Kalangan Mahasiswa

27 Maret 2026 - 02:58 WIB

Ilustrasi dugaan pelecehan mahasiswa dalam lingkungan organisasi kampus di Indonesia

Aktivis Mahasiswa Diteror, Demokrasi Dipertanyakan: Ketua BADKO HMI Jabar Disasar OTK

25 Maret 2026 - 12:00 WIB

Situasi teror aktivis mahasiswa di Jawa Barat yang menyoroti ancaman terhadap kebebasan berpendapat

IKAMI Sulsel Pontianak dan HIPMI PT Gelar Ramadhan Beriman, Salurkan Santunan di Panti Asuhan Nurul Iman

18 Maret 2026 - 16:43 WIB

Kegiatan santunan anak yatim oleh IKAMI Sulsel dan HIPMI PT di panti asuhan Pontianak
Trending di Sosial & Demokrasi