Maluku Utara – Wakil Bendahara DPD GMNI Maluku Utara, Meisyah, menegaskan bahwa perempuan dalam perspektif Marhaenisme bukan sekadar pelengkap, melainkan subjek revolusioner yang memiliki peran setara dengan laki-laki dalam perjuangan sosial, ekonomi, dan politik.
Dalam keterangannya, Meisyah menyampaikan bahwa ajaran Marhaenisme yang digagas oleh Bung Karno menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam upaya melawan penindasan serta mewujudkan keadilan sosial.
“Perempuan harus terlibat aktif dalam perjuangan, bukan hanya di ruang domestik, tetapi juga dalam ruang-ruang strategis pembangunan bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep perempuan Marhaenis tercermin dalam figur “Sarinah,” yang diperkenalkan Bung Karno sebagai simbol perempuan yang kuat, mandiri, dan memiliki semangat juang tinggi. Sosok ini, menurut Meisyah, menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk berani tampil dan berkontribusi dalam berbagai sektor kehidupan.
BACA JUGA: Dies Natalis GMNI ke-72: Antara Seremonial dan Tantangan Nyata Perjuangan Rakyat
Lebih lanjut, Meisyah menekankan pentingnya kesetaraan dalam perjuangan. Perempuan Marhaenis, katanya, memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengembangkan potensi diri serta terlibat aktif dalam proses pembangunan nasional.
Dalam konteks perjuangan agraria dan lingkungan, Meisyah juga menyoroti peran strategis perempuan. Ia menyebut perempuan harus menjadi garda terdepan dalam gerakan rakyat, khususnya dalam menentang kebijakan yang eksploitatif serta menjaga kelestarian alam.
“Perempuan memiliki kedekatan yang kuat dengan sumber-sumber kehidupan, sehingga perannya dalam menjaga lingkungan sangat vital,” jelasnya.
Selain itu, perempuan Marhaenis juga dituntut untuk menjadi penentang segala bentuk penindasan, baik yang bersifat ekonomi maupun sosial. Meisyah menilai bahwa ketidakadilan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang harus dilawan secara kolektif.
Ia juga mendorong perempuan untuk aktif dalam pergerakan sosial dan politik sebagai “pejuang pemikir” yang mampu memberikan gagasan serta arah perjuangan.
“Perempuan tidak hanya bergerak, tetapi juga harus mampu berpikir kritis dan menawarkan solusi,” tegasnya.
Secara keseluruhan, Meisyah menegaskan bahwa emansipasi perempuan dalam Marhaenisme merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan pembebasan nasional.
Dengan keterlibatan aktif perempuan, ia optimistis cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur dapat tercapai.
DPD GMNI Maluku Utara, lanjutnya, akan terus mendorong kader perempuan untuk tampil di garis depan perjuangan sebagai bagian dari komitmen organisasi dalam mewujudkan nilai-nilai Marhaenisme di tengah masyarakat.
(MZB)
Dukung kami melalui donasi:




Komentar