Rasanya sulit sekali memulai hari tanpa menyentuh ponsel yang diletakkan tepat di samping bantal. Hal pertama yang kita cari biasanya bukan kabar dari keluarga, melainkan tumpukan notifikasi atau sekadar scrolling lini masa untuk melihat apa yang sedang terjadi di dunia luar.
Namun, alih-alih merasa terhibur, paparan terus-menerus terhadap kurasi kehidupan orang lain di layar ponsel sering kali memicu rasa tidak puas terhadap pencapaian diri kita sendiri.
Ada perasaan cemas yang merayap, seolah-olah hidup kita jalan di tempat sementara orang lain sedang berlari kencang. Inilah fenomena yang kita kenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO, sebuah kegelisahan modern yang diam-diam menguras energi mental kita setiap harinya.
Secara sederhana, FOMO adalah ketakutan bahwa kita sedang tertinggal dari sesuatu yang menyenangkan atau penting yang dialami orang lain.
Di lingkungan kampus, perasaan ini makin menjadi-jadi karena persaingan sosial terasa begitu nyata. Kita sering merasa harus tahu segala tren, harus ikut setiap acara, dan harus selalu terlihat sibuk agar tidak dianggap “kuper”. Padahal, jika kita telaah lebih dalam, tekanan untuk selalu tampil sempurna ini sebenarnya hanyalah beban yang kita ciptakan sendiri.
Kita seringkali terjebak dalam standar sosial di dunia maya yang makin tidak masuk akal, tanpa menyadari bahwa apa yang kita kejar sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat bagi perkembangan diri kita yang nyata.
Kita perlu sadar bahwa apa yang terpampang di Instagram atau TikTok hanyalah “panggung depan” yang sudah dipoles sedemikian rupa. Tidak ada orang yang mengunggah kegagalan mereka saat mengerjakan tugas atau rasa lelah setelah begadang belajar.
Namun, otak kita seringkali tertipu dan menganggap potret indah tersebut adalah realitas utuh mereka sepanjang waktu. Akibatnya, kita terus membandingkan hidup kita yang penuh lika-liku dengan “potongan terbaik” hidup orang lain. Jika kita terus-menerus terjebak dalam perbandingan ini, kita tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang.
Dampak buruknya sangat terasa pada bagaimana kita mengelola waktu sebagai mahasiswa. Pernahkah Anda berniat hanya melihat satu video singkat, lalu tiba-tiba dua jam telah berlalu begitu saja? Keinginan untuk selalu update membuat fokus kita tercerai-berai.
Tugas yang seharusnya bisa dikerjakan dengan tenang, justru sering terhenti hanya karena godaan untuk memeriksa apakah ada gosip terbaru atau tren yang sedang viral.
Tanpa sadar, kita kehilangan banyak waktu produktif hanya demi memastikan kita tidak “ketinggalan zaman”, padahal waktu tersebut jauh lebih berharga jika digunakan untuk pengembangan diri yang nyata.
Selain itu, media sosial perlahan mengubah cara kita menghargai diri sendiri. Kita mulai menggantungkan kebahagiaan pada angka-angka di layar, seperti berapa banyak orang yang menyukai foto kita atau siapa saja yang melihat cerita pendek kita.
Jika respon yang didapat tidak sesuai harapan, rasa percaya diri bisa langsung anjlok. Seolah-olah, keberadaan kita hanya diakui jika ada validasi digital dari orang lain.
Hal ini sangat melelahkan, karena kita terus dituntut untuk tampil sempurna demi memuaskan pandangan orang yang mungkin sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hidup kita.
Untuk memutus rantai kecemasan ini, kita harus mulai berani mengambil jarak dengan dunia digital. Bukan berarti kita harus menghapus semua akun media sosial, tetapi lebih kepada memberikan batasan yang sehat bagi diri sendiri.
Kita perlu belajar untuk kembali menikmati momen tanpa harus selalu mendokumentasikannya. Mengistirahatkan pikiran dari kebisingan informasi selama beberapa jam sehari bisa membantu kita menemukan kembali ketenangan batin.
Dengan begitu, kita bisa lebih fokus pada pencapaian pribadi tanpa perlu merasa terintimidasi oleh apa yang dilakukan orang lain di layar mereka.
Kesimpulannya, hidup yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini, tepat di depan mata kita, bukan di balik layar berukuran lima inci tersebut.
Memang benar bahwa bahasa yang sederhana sangat diperlukan agar pesan komunikasi mudah dipahami,. Begitu juga dengan hidup; terkadang kesederhanaan tanpa perlu pamer adalah kunci ketenangan.
Jangan biarkan rasa takut tertinggal merenggut kebahagiaan kita yang asli. Mari kita kembalikan ponsel ke tempatnya sejenak dan mulailah berbicara dengan orang di samping kita, atau sekadar menikmati udara segar, karena di sanalah kehidupan yang nyata benar-benar dimulai.
Penulis: Rafa Kalila S.
Mahasiswa Kedokteran, Universitas Yarsi
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR
Dukung kami melalui donasi:



