Infrastruktur
Beranda » Menikmati Romantisme “Abad Pertengahan” di Pontianak, Kota Khatulistiwa yang Kaya Energi tapi Gemar Gelap-Gelapan

Menikmati Romantisme “Abad Pertengahan” di Pontianak, Kota Khatulistiwa yang Kaya Energi tapi Gemar Gelap-Gelapan

Ilustrasi kondisi mati lampu Pontianak dengan lampu minyak dan simbol krisis energi daerah.

Pontianak – Warga Kota Pontianak hari ini serentak diajak melakukan perjalanan lintas waktu kembali ke zaman purba. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, aliran listrik dipadamkan secara total dan berjamaah mulai pukul 12.00 hingga menjelang malam sekitar pukul 20.00 WIB. Delapan jam penuh “kedamaian” tanpa bisingnya kipas angin, AC, maupun gawai yang menyala.

Pemadaman serentak ini sukses mengubah ibu kota Kalimantan Barat yang modern menjadi kota yang gelap gulita begitu matahari terbenam. Sebuah ironi yang dikemas dalam suasana yang, bagi sebagian orang, mungkin terasa “estetik”.

Ironi Kilau Batubara dan Lilin Rp2.000-an

Di bawah tanah Pulau Kalimantan tersimpan jutaan ton batubara, sumber energi fosil yang menghidupkan jutaan lampu di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri. Kalimantan Barat bangga menjadi bagian dari lumbung energi tersebut. Namun, tampaknya warga Pontianak masih harus mengalah.

“Batubara kita memang melimpah untuk menerangi dunia, tapi untuk menerangi kulkas dan lampu rumah sendiri di Pontianak? Nanti dulu. Menikmati makan malam ditemani sebatang lilin murahan jauh lebih romantis dan menguji kesabaran.”

Sementara truk-truk dan kapal tongkang terus mengeruk serta mengangkut emas hitam keluar dari Tanah Borneo demi pundi-pundi devisa, warga Pontianak justru harus sibuk mencari kipas manual demi mengusir gerahnya udara Khatulistiwa yang menyengat sejak siang hari.

Ketua Umum DPC GMNI Mempawah Resah atas Pemadaman Listrik Bergilir

Pertanyaan Besar: Ke Mana Listrik Kami?

Melalui rilis ini, masyarakat Pontianak hanya ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas stimulasi kegelapan ini. Kami jadi tahu rasanya hidup tanpa listrik di atas tanah yang kaya akan energi.

Namun, di tengah pekatnya malam, ada satu pertanyaan sederhana yang bergaung dari setiap sudut rumah warga yang pengap.

“Kalimantan kaya batubara, tapi Kalimantan Barat gelap gulita. Ke mana sebenarnya listrik kami?”

Apakah batubara kami kurang hitam, ataukah keadilan energi yang masih abu-abu? Kami tunggu episode mati lampu selanjutnya. Siapa tahu bisa memecahkan rekor 12 jam. Terima kasih atas “romantismenya”!

 

DPD GMNI Kalbar Nilai PLN Gagal Berikan Pelayanan Maksimal, Syahrul Umam: Kami Siap Gelar Aksi Besar


 

Penulis: Muhammad Syifa As Siddiq/Ramos
Tokoh Pemuda Kalimantan Barat


Editor: M. Abdan Masykur
Bahasa: Darsono. AR

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa