Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat melakukan transaksi keuangan. Di Indonesia, kemunculan berbagai layanan financial technology (fintech) menjadi solusi praktis dalam memenuhi kebutuhan transaksi yang cepat dan efisien.
Salah satu fitur yang paling populer di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa, adalah Shopee PayLater. Dengan konsep “beli sekarang, bayar nanti”, layanan ini menawarkan kemudahan yang seolah menjadi jawaban atas keterbatasan finansial.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah Shopee PayLater benar-benar membantu mahasiswa dalam mengelola keuangan, atau justru menjadi pintu masuk perilaku konsumtif yang tidak terkendali?
Fenomena penggunaan Shopee PayLater di kalangan mahasiswa saat ini semakin meningkat. Kemudahan akses, proses aktivasi yang cepat, serta berbagai promo menarik menjadi daya tarik utama. Mahasiswa tidak perlu memiliki kartu kredit atau melalui proses verifikasi yang rumit untuk dapat menikmati layanan ini. Dalam hitungan menit, mereka sudah bisa bertransaksi dan mendapatkan barang yang diinginkan.
Sayangnya, kemudahan ini sering kali tidak diimbangi dengan kesadaran finansial yang memadai. Banyak mahasiswa yang menggunakan PayLater bukan untuk kebutuhan mendesak, melainkan untuk memenuhi keinginan sesaat. Diskon besar, flash sale, dan tawaran cicilan ringan menciptakan ilusi bahwa barang yang dibeli terasa lebih murah dan terjangkau. Padahal, pada kenyataannya, pengeluaran tersebut hanya ditunda ke masa depan.
BACA JUGA: Program Penurunan Kehilangan Air Menuju PDAM Yang Efisien dan Sehat Secara Finansial
Perilaku ini sejalan dengan hasil penelitian dalam jurnal ekonomi yang menunjukkan bahwa penggunaan fintech payment memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Kemudahan dalam bertransaksi membuat individu cenderung lebih impulsif dalam mengambil keputusan pembelian. Dengan kata lain, semakin mudah akses pembayaran, semakin rendah pertimbangan rasional dalam berbelanja.
Selain faktor kemudahan, aspek psikologis juga turut berperan, salah satunya adalah fenomena FOMO (fear of missing out). Mahasiswa sering kali merasa terdorong untuk membeli suatu produk karena pengaruh tren atau tekanan sosial, baik dari lingkungan pertemanan maupun media sosial. Mereka khawatir dianggap “ketinggalan zaman” jika tidak mengikuti tren yang sedang populer. Akibatnya, keputusan pembelian tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan untuk tetap relevan secara sosial.
Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa penggunaan layanan paylater di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh gaya hidup konsumtif dan rendahnya literasi keuangan. Literasi keuangan yang rendah membuat mahasiswa kurang memahami risiko penggunaan layanan kredit digital, seperti bunga, denda keterlambatan, hingga potensi penumpukan utang. Banyak yang hanya fokus pada kemudahan saat membeli, tanpa mempertimbangkan konsekuensi saat harus membayar tagihan.
Dalam konteks ini, Shopee PayLater sebenarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Layanan ini tetap memiliki manfaat, terutama dalam kondisi darurat atau kebutuhan mendesak, seperti membeli perlengkapan kuliah, kebutuhan kesehatan, atau keperluan penting lainnya ketika dana belum tersedia. Jika digunakan secara bijak, PayLater dapat menjadi solusi keuangan jangka pendek yang membantu.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan PayLater lebih sering didorong oleh kebutuhan gaya hidup. Barang-barang seperti fashion, aksesoris, hingga produk yang sebenarnya tidak terlalu penting justru menjadi transaksi yang dominan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi dari kebutuhan menuju keinginan.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian, terutama karena mahasiswa berada pada fase transisi menuju kemandirian finansial. Kebiasaan konsumtif yang terbentuk sejak dini berpotensi terbawa hingga masa depan, bahkan dapat berdampak pada kondisi keuangan jangka panjang. Tanpa pengelolaan yang baik, penggunaan PayLater bisa memicu siklus utang yang sulit dihentikan.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan literasi keuangan, khususnya dalam memahami cara kerja layanan fintech seperti PayLater. Edukasi mengenai pengelolaan keuangan, perencanaan pengeluaran, serta kesadaran akan risiko utang perlu menjadi perhatian utama. Selain itu, kontrol diri juga menjadi kunci dalam menghadapi berbagai godaan konsumsi di era digital.
Pada akhirnya, Shopee PayLater hanyalah sebuah alat. Ia bisa menjadi solusi atau justru masalah, tergantung pada bagaimana penggunanya memanfaatkan. Kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak selalu sejalan dengan keamanan finansial jika tidak disertai dengan tanggung jawab.
Kesimpulannya, mahasiswa perlu lebih bijak dalam menggunakan layanan seperti Shopee PayLater. Sebelum memutuskan untuk bertransaksi, penting untuk kembali pada pertanyaan sederhana: apakah ini benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan sesaat? Karena pada akhirnya, keputusan kecil hari ini akan menentukan kondisi keuangan di masa depan.
Penulis: Astriani, NIM: (3042311030)
Mahasiswi Program Studi S1 Bisnis Digital, Univ. Bangka Belitung
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Dukung kami melalui donasi:




Komentar