PONTIANAK — Pengurus Persatuan Mahasiswa Mempawah (PRISMA), khususnya Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PSDM), melakukan audiensi strategis dengan anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, H. Suib, SE, M.Sos, dari Fraksi Hanura, Senin (26/1/2026).
Audiensi tersebut bertujuan menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kabupaten Mempawah, khususnya di Kecamatan Sungai Kunyit, yang dinilai belum merasakan dampak positif dari masifnya aktivitas industri di wilayah tersebut.
Dalam pertemuan itu, perwakilan PSDM PRISMA, Muhammad Iqbal, menyampaikan aspirasi masyarakat yang merasa terpinggirkan di tengah perkembangan industri berskala besar.
PRISMA memaparkan empat poin utama yang menjadi perhatian. Pertama, minimnya penyerapan tenaga kerja lokal. Meski Sungai Kunyit dikelilingi perusahaan besar, termasuk PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), keterlibatan tenaga kerja lokal dinilai masih rendah. PRISMA mendesak adanya kebijakan konkret agar masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Kedua, kondisi infrastruktur yang dinilai terabaikan. Pembangunan infrastruktur di wilayah terdampak industri belum optimal dan belum mampu menunjang mobilitas masyarakat, berbanding terbalik dengan intensitas aktivitas korporasi.
Ketiga, kesenjangan sosial dan ekonomi. PRISMA menilai terdapat disparitas mencolok antara pertumbuhan ekonomi perusahaan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kehadiran industri belum berdampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan di tingkat desa.
Keempat, transparansi dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). PRISMA menyoroti pengelolaan CSR yang dinilai belum transparan dan belum berorientasi pada pemberdayaan masyarakat jangka panjang.
BACA JUGA: PRISMA Audiensi dengan Wakil Ketua DPRD Kalbar Bahas Gerakan Sosial
Menanggapi hal tersebut, H. Suib menyambut baik aspirasi yang disampaikan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa masukan tersebut akan menjadi catatan penting untuk ditindaklanjuti melalui rapat komisi serta koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pihak perusahaan terkait.
“Mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat harus terus bersikap kritis. Kami di DPRD akan mengawal isu ini, terutama terkait keterbukaan lapangan kerja bagi warga lokal dan transparansi CSR perusahaan di Sungai Kunyit,” ujar H. Suib.
Sementara itu, Ketua Umum PRISMA, Riko Muhardi, menegaskan bahwa audiensi ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa sebagai agen perubahan yang berpihak pada masyarakat.
“Audiensi ini adalah langkah awal kepedulian kami sebagai mahasiswa Mempawah untuk hadir di tengah masyarakat. Kami tidak ingin daerah kami berkembang pesat secara industri, tetapi masyarakatnya justru tertinggal,” kata Riko.
Ia berharap aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebatas dokumentasi, melainkan ditindaklanjuti secara konkret oleh wakil rakyat.
“Kami berharap Bapak H. Suib, sebagai perwakilan Dapil Mempawah–Kubu Raya, dapat mengawal isu ini secara serius agar perusahaan dan pemerintah daerah lebih peka terhadap hak-hak masyarakat lokal,” ujarnya.
H. Suib kembali menyampaikan apresiasi atas keberanian dan ketajaman analisis PRISMA serta berkomitmen membawa persoalan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi untuk dicarikan solusi yang berpihak pada masyarakat Sungai Kunyit.












