PONTIANAK – Pengurus Rayon Ikatan Santri Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Kalimantan Periode XI resmi memulai rangkaian kegiatan Safari Ramadhan dan IKSASS Berseminar pada Senin, 23 Februari 2026, di Universitas Tanjungpura (Untan), Kalimantan Barat. Mengusung tema “Ramadhan Cerdas Digital: Bijak Bermedia, Raih Berkah”, kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus meneguhkan peran santri sebagai agen perubahan di era digital.
Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut menghadirkan tiga narasumber berlatar belakang santri dengan fokus pada etika bermedia, literasi digital, dan dakwah di ruang siber.
Pada sesi pertama, Ustadzah Nurul Rahmawati, M.H.I., menyampaikan pentingnya menjaga etika selama Ramadhan, termasuk dalam interaksi digital.
“Ramadhan tidak hanya berbicara tentang peningkatan ibadah personal, tetapi juga bagaimana kita menjaga tutur kata, termasuk di ruang digital. Media sosial harus menjadi ruang yang santun, mencerdaskan, dan bernilai dakwah,” ujarnya.
Sesi kedua diisi oleh Ustadz Junaidi, S.H.I., yang menyoroti maraknya hoaks dan penipuan daring selama bulan suci.
“Ramadhan sering dimanfaatkan oknum tertentu untuk menyebarkan hoaks maupun melakukan penipuan berkedok donasi. Karena itu, tabayyun dan literasi informasi menjadi keharusan bagi setiap pengguna media sosial,” tegasnya.
Pada sesi terakhir, Ustadz Fahmil Ulum, M.H.I., mendorong santri agar aktif memanfaatkan media sosial sebagai ruang kebaikan.
“Media sosial adalah ladang amal. Jangan alergi terhadapnya. Gunakan untuk menyebarkan ilmu, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Organisasi menjadi wadah penting untuk merealisasikan gagasan itu secara kolektif,” katanya.

Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini menunjukkan posisi IKSASS sebagai ruang tumbuhnya santri aktivis—santri yang tidak hanya kuat dalam tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga aktif dalam gerakan sosial dan literasi digital.
Ketua Dewan Syuri IKSASS Kalimantan Barat, Ustadzah Marsuni, M.Pd., menegaskan bahwa Safari Ramadhan merupakan bagian dari ikhtiar pesantren dalam menyebarkan nilai keislaman ke ruang publik.
“Santri hari ini tidak cukup hanya belajar di pesantren. Mereka harus mampu merealisasikan ilmunya di tengah masyarakat. Selain mengharap ridha pengasuh, santri juga perlu mendapatkan ridha orang tua sebagai landasan dalam berkiprah,” tuturnya.
(*Red/JI Berkontribusi dalam tulisan ini)












