Sebuah ironi di tengah Karhutla dan krisis air Kalimantan Barat
Ada sebuah ironi yang sulit untuk tidak dipertanyakan dari penutupan PBAK IAIN Pontianak.
Di tengah situasi Kalimantan Barat yang sedang menghadapi persoalan Karhutla, kabut asap, kekeringan, dan kesulitan mendapatkan air bersih, penutupan PBAK justru diwarnai dengan kegiatan guyuran air sebagai bagian dari kemeriahan acara.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya sebuah tradisi. Mungkin pula dianggap sebagai bentuk hiburan untuk menutup rangkaian PBAK dengan suasana penuh kegembiraan.
Namun, pertanyaannya sederhana:
Apakah kita masih bisa menyebutnya sekadar hiburan ketika di luar sana masyarakat sedang mencari air untuk kebutuhan paling dasar?
Ketika sebagian masyarakat membutuhkan air bersih untuk minum, memasak, mandi, dan bertahan hidup, air juga dibutuhkan dalam penanganan Karhutla. Bahkan, air yang tidak layak untuk konsumsi sekalipun tetap memiliki nilai ketika digunakan untuk membantu memadamkan api.
Sementara itu, di tengah situasi tersebut, kita melihat air digunakan dalam kemeriahan penutupan PBAK.
Di luar kampus, rakyat mencari air.
Di tengah hutan dan lahan, api membutuhkan air.
Di dalam kampus, air justru dijadikan bagian dari euforia.
Di sinilah persoalannya.
Kritik ini bukan semata-mata tentang berapa liter air yang digunakan. Persoalan yang jauh lebih besar adalah kepekaan terhadap konteks sosial dan ekologis.
Sebab, mahasiswa tidak hidup di ruang hampa.
Mahasiswa hidup di tengah masyarakat. Menghirup udara yang sama. Menghadapi persoalan lingkungan yang sama. Dan ketika Kalimantan Barat sedang berhadapan dengan Karhutla serta persoalan ketersediaan air, maka seharusnya keadaan tersebut menjadi bagian dari kesadaran gerakan mahasiswa.
Terlebih lagi, pada hari kedua PBAK, mahasiswa baru bahkan diperlihatkan pesan kritik lingkungan:
“KALIMANTAN DIBAKAR, BUKAN TERBAKAR.”
Pesan itu seharusnya tidak berhenti menjadi tulisan di spanduk.
Kalimat tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia mengajak kita mempertanyakan bagaimana kerusakan lingkungan terjadi, siapa yang terdampak, dan bagaimana mahasiswa mengambil posisi.
Namun, menjadi ironis apabila setelah berbicara tentang Kalimantan yang dibakar, rangkaian PBAK justru ditutup dengan kegiatan yang menggunakan air untuk sekadar kemeriahan.
Jangan sampai kritik terhadap Karhutla hanya menjadi dekorasi acara.
Lebih jauh, kegiatan tersebut juga disebut tidak memperoleh persetujuan dari pihak akademik. Jika benar demikian, maka persoalannya bukan hanya mengenai penggunaan air di tengah krisis, tetapi juga menyangkut bagaimana sebuah kegiatan mahasiswa dilaksanakan dan sejauh mana koordinasi serta tanggung jawab kelembagaan dijalankan.
Karena itu, kritik ini tidak diarahkan untuk memusuhi DEMA Institut.
Justru sebaliknya.
DEMA Institut harus dikritik karena ia memiliki posisi strategis.
DEMA bukan sekadar penyelenggara kegiatan. Ia membawa nama gerakan mahasiswa di tingkat institut. Maka, setiap kegiatan yang dilaksanakan semestinya memiliki pertimbangan sosial, ekologis, dan moral.
PBAK seharusnya menjadi ruang untuk memperkenalkan mahasiswa baru kepada realitas kampus dan masyarakatnya.
Bayangkan jika sebagian kemeriahan tersebut dialihkan menjadi sesuatu yang lebih bermakna: membagikan masker kepada masyarakat terdampak asap, menggalang air bersih, membantu penanganan Karhutla, atau membuka ruang diskusi tentang krisis ekologis Kalimantan Barat.
Bukankah itu jauh lebih mencerminkan wajah mahasiswa?
Mahasiswa tidak dilarang bersenang-senang. Tradisi tidak selalu harus dihapus. Kemeriahan juga bukan sebuah kesalahan.
Tetapi, tradisi harus memiliki konteks.
Ketika keadaan sekitar sedang baik-baik saja, mungkin guyuran air hanya dianggap sebagai permainan.
Tetapi, ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan air dan Karhutla, tindakan yang sama dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpekaan.
Dan di sinilah kampus seharusnya mengajarkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar euforia:
bahwa menjadi mahasiswa berarti belajar membaca keadaan.
Sebab, ada perbedaan antara mahasiswa yang hanya hadir dalam keramaian dengan mahasiswa yang hadir ketika masyarakat sedang membutuhkan keberpihakan.
AIR BUKAN MAINAN.
AIR ADALAH KEBUTUHAN.
Kalimantan Barat tidak hanya membutuhkan slogan tentang lingkungan.
Kalimantan Barat membutuhkan tindakan.
Masyarakat membutuhkan air untuk minum.
Petugas dan masyarakat membutuhkan air untuk menghadapi api.
Masyarakat membutuhkan udara yang sehat untuk bernapas.
Maka, ketika rakyat sedang mencari air dan Karhutla masih menjadi ancaman, kita patut bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kemeriahan PBAK lebih penting daripada kepekaan terhadap keadaan Kalimantan Barat?
Jika mahasiswa ingin disebut sebagai gerakan intelektual, maka keberanian bersuara harus berjalan bersama kepekaan.
Jika kita ingin membawa nama kampus hijau, maka kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada spanduk.
Dan jika kita mengaku sebagai mahasiswa yang berpihak kepada rakyat, maka jangan sampai:
Rakyat mencari air untuk hidup, sementara mahasiswa menggunakan air untuk berpesta.
KALIMANTAN SEDANG MEMBUTUHKAN KEPEKAAN, BUKAN SEKADAR KEMERIAHAN.
AIR UNTUK KEHIDUPAN.
BUKAN UNTUK FOYA-FOYA.
Penulis: Haidar Ali Yahya R.
Sekretaris Bidang Isu dan Strategi Fakultas Syariah
Dukung kami melalui donasi:



