Sosial & Demokrasi
Beranda » Fatimah dan Tiyo: Simbol Kebangkitan Aktivisme Mahasiswa atau Fenomena Sesaat?

Fatimah dan Tiyo: Simbol Kebangkitan Aktivisme Mahasiswa atau Fenomena Sesaat?

Aktivisme mahasiswa kembali mendapat perhatian publik melalui ruang digital

Dalam beberapa bulan terakhir, nama Fatimah Azzahra dari BEM UI dan Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, menjadi perbincangan luas di ruang publik. Keduanya tampil dalam berbagai forum diskusi, wawancara media, hingga perdebatan yang kemudian menyebar luas di media sosial. Di tengah derasnya arus informasi digital, mereka berhasil menarik perhatian publik, sesuatu yang tidak selalu mudah dilakukan oleh aktivis mahasiswa pada era sekarang.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah kemunculan Fatimah dan Tiyo menandai kebangkitan kembali gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral dan politik, ataukah mereka hanya bagian dari siklus viral yang cepat muncul lalu cepat dilupakan?

Pertanyaan tersebut penting karena dalam beberapa tahun terakhir, banyak kalangan menilai posisi mahasiswa dalam ruang publik mengalami perubahan. Jika pada masa lalu mahasiswa sering menjadi aktor utama dalam berbagai momentum politik nasional, kini perhatian publik lebih banyak tersita oleh influencer, selebritas, maupun tokoh politik profesional. Ruang yang dahulu banyak diisi oleh gagasan dan kritik mahasiswa perlahan tergeser oleh konten yang lebih mengutamakan kecepatan dan sensasi.

Di tengah kondisi tersebut, kemunculan Fatimah dan Tiyo terasa berbeda. Mereka tidak viral karena hiburan atau kontroversi pribadi. Mereka menjadi sorotan karena kritik dan argumentasi yang mereka sampaikan terhadap berbagai kebijakan publik. Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan pandangan mereka, publik kembali menyaksikan mahasiswa berbicara mengenai isu-isu yang menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Namun, melihat fenomena ini semata-mata sebagai kebangkitan gerakan mahasiswa juga perlu dilakukan secara hati-hati. Viralitas di era digital memiliki karakter yang berbeda dengan pengaruh politik yang sesungguhnya. Seseorang dapat menjadi sangat terkenal dalam waktu singkat tanpa memiliki basis gerakan yang kuat. Sebaliknya, ada banyak aktivis yang bekerja secara konsisten di tingkat akar rumput tetapi tidak pernah mendapatkan perhatian media nasional.

Ketika Kritik Dipolisikan: DEMA PTKIN Soroti Food Estate dan Ekspansi Kekuasaan di Papua

Di sinilah letak perbedaan antara popularitas dan pengaruh. Popularitas berkaitan dengan seberapa sering seseorang dibicarakan, sedangkan pengaruh berkaitan dengan kemampuan mengubah cara pandang publik atau bahkan memengaruhi kebijakan. Tidak semua yang viral memiliki pengaruh jangka panjang. Banyak fenomena media sosial yang hilang begitu saja ketika muncul isu baru yang lebih menarik perhatian.

Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Fatimah dan Tiyo telah menjadi simbol permanen kebangkitan mahasiswa. Yang lebih tepat adalah melihat mereka sebagai indikator bahwa ruang publik masih memiliki kebutuhan terhadap suara kritis dari kalangan kampus. Di tengah meningkatnya polarisasi politik dan banjir informasi yang sering kali membingungkan masyarakat, kehadiran mahasiswa yang berani menyampaikan pandangan alternatif ternyata masih mendapatkan tempat.

Fenomena ini juga menunjukkan adanya perubahan pola aktivisme mahasiswa. Jika generasi sebelumnya mengandalkan mimbar bebas, demonstrasi jalanan, dan media cetak kampus, generasi saat ini harus berhadapan dengan algoritma media sosial. Sebuah pernyataan dalam forum diskusi dapat dipotong menjadi video singkat, disebarkan ke berbagai platform, lalu menjadi bahan perdebatan nasional dalam hitungan jam. Aktivisme kini tidak hanya berlangsung di jalan atau ruang kelas, tetapi juga di layar ponsel.

Perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, gagasan mahasiswa dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas. Di sisi lain, ada risiko bahwa substansi kritik akan kalah oleh logika viralitas. Ketika perhatian publik hanya bertahan beberapa hari, mahasiswa dituntut untuk terus menghasilkan pernyataan yang menarik perhatian agar tetap relevan. Akibatnya, ruang diskusi yang seharusnya mendalam terkadang berubah menjadi perlombaan mencari momentum.

Jawaban atas pertanyaan apakah Fatimah dan Tiyo merupakan simbol kebangkitan aktivisme mahasiswa atau sekadar fenomena sesaat belum dapat diberikan secara pasti. Waktu akan menjadi penguji utama. Jika gagasan yang mereka bawa mampu memicu diskusi yang berkelanjutan, mendorong partisipasi politik generasi muda, dan menghadirkan pengaruh yang melampaui media sosial, maka keduanya dapat dipandang sebagai bagian dari fase baru gerakan mahasiswa Indonesia.

Dampak Kegiatan Malam Rabu Gaul (Balapan Ringroad) terhadap Masyarakat di Yogyakarta

Sebaliknya, apabila perhatian publik berhenti pada viralitas semata, lalu menghilang ketika muncul isu lain yang lebih ramai, maka fenomena ini hanya akan menjadi catatan singkat dalam dinamika ruang digital yang bergerak sangat cepat.

Satu hal yang sulit dibantah, kemunculan Fatimah dan Tiyo menunjukkan bahwa suara mahasiswa belum kehilangan daya tariknya di mata publik. Masyarakat masih memberikan ruang bagi kritik yang lahir dari kampus. Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan popularitas, melainkan membuktikan bahwa gagasan yang disampaikan mampu bertahan lebih lama daripada siklus viral yang setiap hari berganti di linimasa.


Penulis: Siti Rahmawati
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


Dosen Pengampu : Dr. Budi Santoso, S.IP., M.Si.


Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR

Media Sosial dan Perubahan Cara Berkomunikasi

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa