Kepergian Thamrin Usman meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kolega, tetapi juga bagi kami, mahasiswa yang pernah belajar langsung di bawah bimbingannya. Sosok beliau bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan representasi dari integritas akademik yang nyata—tegas, konsisten, dan berorientasi pada kualitas.
Sebagai bagian dari Universitas Tanjungpura, beliau dikenal luas sebagai akademisi yang memiliki standar tinggi dalam proses pendidikan. Dalam setiap perkuliahan, beliau tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membentuk cara berpikir. Ketelitian, logika, dan kejujuran ilmiah menjadi prinsip yang tidak pernah ditawar.
Bagi sebagian mahasiswa, metode beliau mungkin terasa keras. Namun dalam perspektif yang lebih objektif, pendekatan tersebut justru menunjukkan komitmen beliau terhadap kualitas lulusan. Ia tidak membiarkan mahasiswa lulus hanya karena memenuhi formalitas administratif, tetapi mendorong agar setiap individu benar-benar memahami substansi keilmuan yang dipelajari.
BACA JUGA: 10 Kampus Unggulan di Kalimantan Barat yang Paling Diminati
Lebih dari itu, beliau menanamkan satu hal mendasar: bahwa ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab. Menjadi sarjana bukan sekadar memperoleh gelar, melainkan membawa konsekuensi moral untuk berpikir benar, bersikap jujur, dan berkontribusi secara nyata bagi masyarakat.
Kehilangan beliau juga berarti hilangnya salah satu pilar intelektual di lingkungan akademik Kalimantan Barat. Figur seperti beliau tidak mudah digantikan, karena yang diwariskan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga nilai dan standar. Dalam jangka pendek, kekosongan ini akan terasa, terutama dalam hal pembinaan akademik dan penguatan budaya ilmiah.
Namun demikian, warisan beliau tidak berhenti pada kepergian fisik. Nilai-nilai yang telah ditanamkan—ketegasan dalam berpikir, disiplin dalam proses, dan integritas dalam bertindak—akan terus hidup dalam diri para mahasiswa yang pernah dibimbingnya.
Sebagai mahasiswa, kami mungkin tidak selalu sepakat dengan cara beliau mengajar. Namun seiring waktu, kami memahami bahwa di balik ketegasan itu terdapat komitmen besar untuk membentuk generasi yang lebih kuat secara intelektual dan karakter.
Kini, ketika beliau telah berpulang, yang tersisa adalah tanggung jawab: apakah nilai-nilai yang telah diajarkan akan benar-benar kami jalankan, atau berhenti sebagai sekadar kenangan.
Selamat jalan, Prof. Dr. H. Thamrin Usman, D.E.A.
Jejakmu tidak berhenti di sini.
Penulis: Muslih Safrudin, Alumni FMIPA Tahun 2007
Dukung kami melalui donasi:




Komentar