Pendidikan
Beranda » Dibalik Sistem Tahfidz Non-Mukim: Praktik Pendidikan Di GTA Yahqi

Dibalik Sistem Tahfidz Non-Mukim: Praktik Pendidikan Di GTA Yahqi

Tidak semua anak yang ingin dekat dengan Al-Qur’an harus menempuh pendidikan di pesantren mukim. Ada kebutuhan lain yang juga muncul di masyarakat, yaitu menghadirkan pendidikan tahfidz yang tetap berkualitas namun lebih fleksibel dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, Graha Tahfidz Al-Qur’an YAHQI (GTA YAHQI) di bawah naungan Yayasan Hafidz Qur’an Indonesia (YAHQI) menawarkan pendekatan yang berbeda melalui sistem non-mukim.

Namun yang menarik, GTA YAHQI tidak hanya berfokus pada hafalan semata. Proses pembelajaran dimulai dari tahsin untuk memastikan bacaan yang benar, dilanjutkan dengan tahfidz yang memiliki target jelas hingga 30 juz, serta diperkuat dengan hafalan hadist. Dengan adanya target yang terarah, proses belajar menjadi lebih terukur dan tidak berjalan tanpa arah.

Kualitas tersebut juga dijaga melalui sistem munaqosyah di setiap kenaikan juz. Santri tidak sekadar menambah hafalan, tetapi benar-benar diuji agar hafalannya kuat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa proses dan ketahanan hafalan menjadi perhatian utama.

Di sisi lain, GTA YAHQI juga membekali santri dengan kemampuan yang lebih luas. Adanya pembelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Krama, dan public speaking menjadi bukti bahwa pendidikan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada aspek religius, tetapi juga pada kemampuan berkomunikasi dan percaya diri.

Pemerintah Akan Tutup Prodi Tidak Relevan, Ini Dampaknya bagi Mahasiswa dan Dunia Kerja

Pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil dengan bimbingan ustadzah juga membuat proses menjadi lebih intensif. Setiap santri mendapatkan perhatian yang cukup, sehingga perkembangan hafalan dan bacaan dapat dipantau dengan lebih baik.

Keterlibatan orang tua melalui pertemuan rutin dan sesi kepengasuhan juga menjadi bagian penting. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di lembaga, tetapi juga diperkuat di rumah melalui peran keluarga.

Melihat keseluruhan sistemnya, GTA YAHQI tidak hanya menjalankan fungsi sebagai tempat menghafal Al-Qur’an, tetapi sebagai model pendidikan yang menggabungkan pembinaan hafalan, karakter, dan keterampilan dalam satu proses yang terarah.

Disinilah letak kekuatannya—bukan sekadar mencetak penghafal, tetapi membentuk generasi yang siap hidup dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Penulis: Siti Khoirotun Nafi’ah
Mahasiswi Manajemen Pendidikan Pesantren Universitas Darunnajah Jakarta

Strategi Cerdas Mengelola Waktu: Cara Mahasiswa Menyeimbangkan Kuliah, Tugas, dan Pekerjaan di Era Modern

Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa