Menu

Mode Gelap
 

Opini · 25 Mar 2026 14:02 WIB ·

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM): Kebanggaan yang Perlu Diuji


 Oleh: ERIANTO (Pemuda Diaspora Sulsel) Perbesar

Oleh: ERIANTO (Pemuda Diaspora Sulsel)

Sebagai pemuda Sulawesi Selatan, sulit untuk tidak merasa bangga melihat Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM). Di sana, kita melihat orang-orang dari latar Bugis-Makassar yang berhasil membangun usaha di berbagai daerah, bahkan lintas pulau. Di bawah naungan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, forum ini menunjukkan bahwa identitas bukan hanya soal budaya, tapi juga kekuatan ekonomi.

Tapi kalau jujur, rasa bangga itu tidak cukup.

Saya melihat PSBM seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia adalah bukti bahwa jaringan dan solidaritas bisa mengangkat banyak orang. Relasi yang terbangun di forum seperti ini nyata bukan sekadar teori. Orang bisa dapat proyek, mitra, bahkan akses yang sebelumnya tertutup.

Namun di sisi lain, tidak semua orang punya pintu masuk yang sama.

Banyak pemuda hanya hadir sebagai peserta, bukan bagian dari lingkaran inti. Kita datang, dengar, foto, lalu pulang tanpa benar-benar terhubung. Sementara yang sudah punya posisi dan modal, mereka yang terus bergerak dan berkembang di dalam forum itu.

Pertanyaannya sederhana:
apakah forum ini memang untuk semua, atau hanya untuk yang sudah “jadi”?

Hal lain yang juga terasa adalah jarak antara cerita sukses di luar daerah dengan kondisi di kampung sendiri. Kita sering dengar bagaimana saudagar Bugis-Makassar berkembang di berbagai kota besar. Tapi di sisi lain, masih banyak anak muda di Sulawesi Selatan yang kesulitan mencari peluang. Ini bukan soal iri, tapi soal realita yang belum seimbang.

Kalau forum ini memang kuat, seharusnya dampaknya juga terasa lebih luas, bukan hanya di lingkaran tertentu.

Saya tidak melihat PSBM sebagai sesuatu yang salah. Justru sebaliknya, ini adalah aset besar. Tapi aset ini akan kehilangan makna kalau hanya berputar di orang-orang yang sama, tanpa membuka ruang bagi yang lain untuk ikut tumbuh.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya siapa yang sudah berhasil, tapi berapa banyak orang yang ikut diberi kesempatan untuk sampai ke sana.

Oleh: ERIANTO (Pemuda Diaspora Sulsel)

Artikel ini telah dibaca 121 kali

Baca Lainnya

Paradoks Ade Armando

14 April 2026 - 10:23 WIB

Ade Armando dalam konteks paradoks peran akademisi dan media digital

Seminar Vibes Dakwah di Ketapang Bahas Kepemimpinan Modern dan Tradisional

12 April 2026 - 15:03 WIB

Peserta mengikuti seminar vibes dakwah tentang kepemimpinan modern di Ketapang secara interaktif

Ketua GMNI Maluku Utara Minta Mabes Polri Evaluasi Wadir Intelkam Polda Malut

8 April 2026 - 15:19 WIB

Ketua GMNI Maluku Utara menyampaikan tuntutan evaluasi aparat kepolisian terkait dugaan intimidasi

IKAMI Sulsel Soroti Narasi Swasembada Pangan, Kritik Feri Amsari Dinilai Tidak Berbasis Data

8 April 2026 - 10:58 WIB

Andi Amran: Bintang dari Timur yang Ditunggu Matahari dari Jawa

8 April 2026 - 10:40 WIB

Arab Saudi: Tuan yang Disandra Penjaganya

8 April 2026 - 10:31 WIB

Trending di Analisis