Analisis Opini
Beranda » Andi Amran: Bintang dari Timur yang Ditunggu Matahari dari Jawa

Andi Amran: Bintang dari Timur yang Ditunggu Matahari dari Jawa

Darah kuasa nusantara sejak kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, orbitnya masih tetap berpusat Jawa. Sementara Timur seperti Sulsel, NTT dan Papua, sampai sekarang masih belum berhasil menggeser poros utama kuasa itu. Kecuali, pada saat Timur diperlukan sebagai simbol pemerataan.

Kenapa? Tentu bukan hanya karena Jawa adalah pusat demografi, tetapi karena imajinasi kekuasaan nasional sejak lama dibentuk oleh logika bahwa jalan menuju istana hampir selalu harus melewati tanah Jawa.

Data sejumlah survei mutakhir cukup menguatkan ‘dalil’ itu. Nama-nama yang terus menonjol dalam bursa capres 2029, misalnya, masih didominasi oleh sosok-sosok populer seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming, Anies Baswedan, semuanya dari Jawa. Dan belakangan, menyalip cukup kencang, nama moncer dari Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Meskipun, seluruh figur terkenal itu masih belum masuk dalam kategori berelektabilitas kokoh. Kecuali, Prabowo yang sudah berada di posisi plus minus sekitar 40 an%. Dan posisi kedua, disodok Dedi Mulyadi yang saat ini menjabat Gubernur Jabar dan populer dengan panggilan KDM (Kang Dedi Mulyadi).

Lalu, bagaimana dengan figur-figur yang dari Timur? Sejauh ini, data sejumlah lembaga survei memang belum banyak tokoh yang memenuhi syarat popularitas dan elektabilitas yang moncer sebagai hukum besi prilaku pemilih untuk dipilih. Kecuali, ada nama besar yang mulai bersinar. Yaitu, *Andi Amran Sulaiman* (AAS).

Strategi Cerdas Mengelola Waktu: Cara Mahasiswa Menyeimbangkan Kuliah, Tugas, dan Pekerjaan di Era Modern

Kemunculan AAS sebagai Menteri Pertanian RI asal Bugis Makassar ini memang cukup menarik. Ia datang dengan membawa etos kerja yang keras, hasil yang konkret, dan citra bersih yang semakin langka di panggung kekuasaan. Sehingga, namanya belakangan dikenal sebagai Mister Clean, sebuah gelar publik atas kerinduannya kepada pemimpin yang anti korupsi.

Dalam survei LSI Denny JA tahun 2025, nama Andi Amran ini memang sudah masuk dalam radar sebagai figur yang diperhitungkan di Pilpres 2029. Meski baru memiliki elektabilitas dibawah 7 %, Ia sudah cukup bagus dipersepsi citra positif sebagai pejabat negara yang tegas, kerja keras, dan bersih.

BACA JUGA: Ketua BPW KKSS Kalbar Ajak Saudagar Perkuat Jejaring Ekonomi di PSBM XXVI Makassar

Hanya saja, masih dari data survei LSI Denny JA, Andi Amran masih terkendala problem popularitas. Dan inilah PR besarnya dalam satu atau dua tahun kedepan agar hukum besi prilaku pemilihnya terpenuhi.

Namun begitu, sebagai figur yang datang dari Timur, problem berikutnya Amran harus menghadapi realitas elektoral Indonesia yang masih sangat Jawa-sentris. Sehingga, bintang dari Timur seperti Amran ini akan lebih realistis dibaca bukan sebagai matahari utama, melainkan sebagai cahaya yang melengkapi matahari dari Jawa.

Ketika Kemampuan Ekonomi Bertemu Praktik Uang Panai

Dengan kata lain, untuk lanskap hari ini, Amran tampak lebih cocok dibangun sebagai kandidat wakil presiden ketimbang calon presiden utama. Ini bukan bentuk merendahkan, tapi justru sebaliknya. Ini pembacaan yang lebih jujur terhadap anatomi kekuasaan Indonesia.

Dalam demokrasi langsung, capres tidak cukup hanya hebat, bersih, dan berkinerja baik. Ia juga harus memenuhi hukum besi perilaku pemilih tadi, yakni punya popularitas tinggi, elektabilitas stabil, akses pada panggung nasional, dan simbol yang mudah diterima mayoritas pemilih lintas wilayah.

Dalam struktur seperti ini, Jawa tetap menjadi episentrum. Kandidat berdarah Jawa mempunyai keuntungan bawaan. Yaitu, kedekatan geografis dengan pusat kekuasaan, kepadatan media, sejarah politik, dan basis pemilih yang besar.

Maka, selama survei-survei masih menunjukkan dominasi figur-figur dari Jawa di papan atas, membaca Amran sebagai poros wapres justru jauh lebih strategis daripada memaksanya terlalu dini menjadi poros capres.

Jangan salah, posisi sebagai kandidat wapres bukan posisi remeh. Dan dengan peluang yang ada, Amran sangat berpotensi mengganti bintang Timur seperti Jusuf Kalla (JK) yang sudah lebih dulu mengambil posisi itu.

Relevansi Ma’had Mahasiswa di Tengah Tantangan Pendidikan Modern

Dalam kontek inilah, menurut saya, posisi Andi Amran menjadi relevan untuk diperhitungkan. Dan dalam konteks ini juga, Andi Amran menemukan momentumnya sebagai figur perwakilan dari luar Jawa. Wakil presiden yang kuat bukan sekadar pelengkap administratif, tetapi penyeimbang geografis, penambah akseptabilitas, sekaligus jembatan moral dan elektoral.

Karena itu, Andi Amran Sulaiman memiliki nilai strategis yang sangat penting. Ia membawa representasi Timur, tetapi bukan sekadar representasi simbolik. Ia membawa sesuatu yang lebih mahal: reputasi kerja.

Dalam survei Indikator yang dirilis November 2025, tingkat kepuasan terhadap kinerja Amran tercatat 84,9 persen, tertinggi di antara menteri atau pejabat yang diukur dalam rilis itu.

Angka itu penting bukan semata sebagai statistik, melainkan sebagai tanda bahwa Amran telah berhasil menanamkan satu citra yang sangat berharga di mata pemilih.

Ia dibaca sebagai menteri yang tegas, cepat, dan tidak terlalu banyak basa-basi. Citra ini diperkuat oleh langkah-langkah kerasnya terhadap praktik korupsi dan permainan jabatan di Kementerian Pertanian, termasuk pencopotan pejabat yang dinilai bermasalah.

Dalam politik yang sering memproduksi tokoh populer tanpa prestasi, Amran justru muncul dengan jalur yang terbalik; prestasinya lebih dulu terlihat, sementara panggung politiknya baru mulai terbentuk.

Keunggulan lain dari Andi Amran, selain representasi dari Timur dan tercitrakan bersih, ia juga cukup berhasil membawa legitimasi kerja dari sektor pangan, sebagai isu yang langsung masuk ke dapur-dapur rakyat.

Dengan bekal citra itulah, Andi Amran pada saatnya akan menjadi gadis cantik yang potensial dilamar siapa saja Capres RI yang ingin menang Pilpres di 2029. Matahari dari Jawa, siapapun, baik Prabowo, Dedi Mulyadi, Anies dan lain-lain, pasti akan butuh penguat yang bisa menambah cahaya kemenangan dengan menggandeng Bintang dari Timur.

Bacaan politik diatas memang memberi pesan halus, bahwa Indonesia sampai sekarang masih belum sepenuhnya selesai dengan hierarki lama kekuasaan. Yaitu, bahwa Jawa tetap pusat cahaya, sementara luar Jawa sering diposisikan sebagai pelengkap spektrum.

Bintang dari Timur boleh bersinar, tetapi untuk sampai ke puncak, ia masih harus menunggu apakah ada matahari dari Jawa yang membutuhkan cahayanya. Dan survei-survei sejauh ini menunjukkan bahwa poros capres memang masih bergerak di sekitar figur-figur berlatar Jawa atau sangat kuat di Jawa.

Namun, dibalik pesan halus itu, ada juga peluang besar. Justru karena dominasi capres masih diisi figur dari Jawa, kandidat seperti Amran menjadi sangat relevan dalam formula pasangan nasional. Ia bisa menjadi jawaban atas kebutuhan keseimbangan: Jawa dan luar Jawa, pusat dan daerah, simbol dan kerja, popularitas dan efektivitas.

Pada titi inilah, Amran punya kelebihan yang tidak dimiliki banyak tokoh lain. Kekurangannya? Ia belum sepenuhnya menjadi figur dengan top of mind nasional setebal tokoh-tokoh yang saban hari berada di panggung politik.

Ia kuat sebagai menteri, namun belum final sebagai narator kebangsaan. Ia efektif di sektor, tetapi belum sepenuhnya teruji di panggung isu lintas sektor seperti demokrasi, ekonomi makro, geopolitik, dan hukum nasional.

Dengan kata lain, Amran sudah punya kapasitas, bahkan mungkin isi tas, sehingga tak perlu korupsi, tetapi ia masih perlu memperbesar resonansi gaung dan gemanya. Karena dalam kontestasi presiden, resonansi kerap lebih menentukan daripada sekadar prestasi.

Karena itu, membaca Amran sebagai calon wapres bukan pembatasan, melainkan penempatan yang rasional. Ia bisa menjadi pasangan ideal bagi figur capres dari Jawa yang sudah lebih dahulu memegang popularitas dan elektabilitas. Ia dapat berfungsi sebagai penguat moral, penguat kerja, dan penguat representasi kawasan.

Namun, yang harus tetap diingat Andi Amran, ada hukum tak tertulis tentang realitas politik Indonesia sampai saat ini, bahwa matahari dari Jawa masih tetap sebagai pusat orbit capres. Meskipun, bukan mustahil, ada saatnya nanti, orbit menggeser bintang dari Timur ke Jawa, dan Matahari dari Jawa ke Timur.

Penulis: Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *