Pontianak – Himpunan Mahasiswa Program Studi Agama-Agama berhasil berkolaborasi dengan sejumlah komunitas dalam menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi.
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi mahasiswa untuk melihat berbagai persoalan kemanusiaan, budaya, lingkungan, dan keadilan sosial yang terjadi di Papua dari sudut pandang yang lebih kritis, akademis, dan humanis.
Mahasiswa Program Studi Agama-Agama menilai film dokumenter tersebut bukan sekadar tayangan sosial dan politik, melainkan juga refleksi mengenai hubungan manusia dengan tanah, budaya, alam, serta nilai-nilai spiritual yang hidup di tengah masyarakat adat Papua.
Film itu memperlihatkan bahwa persoalan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari aspek kemanusiaan dan penghormatan terhadap identitas budaya masyarakat lokal.
Dalam diskusi yang berlangsung, mahasiswa menanggapi film melalui pendekatan dialogis dan teologis. Mereka memandang bahwa setiap agama pada dasarnya mengajarkan nilai keadilan, perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tanggung jawab menjaga alam ciptaan Tuhan.
Karena itu, berbagai persoalan yang ditampilkan dalam film, seperti kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup masyarakat adat, dan konflik sosial, dinilai tidak hanya sebagai persoalan ekonomi maupun politik, tetapi juga persoalan moral dan spiritual.
Dari sudut pandang teologis, film tersebut dinilai mengingatkan bahwa manusia memiliki amanah untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Alam dipahami bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang memiliki nilai sakral.
Tradisi adat yang ditampilkan dalam film juga memperlihatkan adanya hubungan spiritual antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Hal itu menjadi pelajaran penting bahwa agama dan budaya sejatinya dapat berjalan berdampingan dalam menjaga harmoni kehidupan.
Selain itu, Program Studi Agama-Agama memandang film dokumenter ini sebagai media pembelajaran untuk memperkuat dialog lintas budaya dan lintas keyakinan.
Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, pendekatan dialog dinilai penting agar perbedaan tidak melahirkan konflik, melainkan menjadi jalan untuk saling memahami dan menghargai pengalaman hidup masyarakat lain.
Melalui kegiatan nobar dan diskusi tersebut, mahasiswa berharap peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu membangun kesadaran kritis terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan.
Kampus diharapkan menjadi ruang lahirnya pemikiran yang terbuka, reflektif, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi diskusi film semata, tetapi juga bagian dari upaya membangun kepedulian sosial dan spiritual generasi muda terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat.
(*Red/Rilis)
Dukung kami melalui donasi:



