Dalam panggung sejarah politik dan ekonomi Indonesia, awal mula karier seorang tokoh besar sering kali diwarnai oleh kisah-kisah unik yang tidak terduga.
Salah satu cerita paling legendaris datang dari era awal Orde Baru, melibatkan seorang pria berwajah teduh dan berperawakan mungil yang kelak menjadi penjaga benteng brankas negara.
Pria itu adalah Profesor Johannes Baptista Sumarlin, atau yang lebih dikenal dengan nama J.B. Sumarlin. Siapa sangka, sosok yang sempat dipandang sebelah mata dan diremehkan di dalam ruang sidang kabinet terhormat, di kemudian hari justru menjelma menjadi salah satu Menteri Keuangan paling jenius dan paling disayang oleh Presiden Soeharto.
Momen Canggung di Istana Negara: Siapa Anak Kecil Itu?
Kisah unik ini terjadi pada permulaan tahun 1969. Saat itu, Indonesia sedang merangkak keluar dari krisis ekonomi hebat.
J.B. Sumarlin yang baru saja merampungkan gelar Doktor (Ph.D) ekonomi dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, ditarik untuk mengabdi sebagai Deputi Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas.
Sebagai tenaga ahli yang baru, Sumarlin diajak oleh sang begawan ekonomi, Widjojo Nitisastro, untuk mendampinginya menghadiri Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi di Istana Negara.
Menghadiri sidang yang hanya boleh diisi oleh para menteri tentu merupakan hal besar bagi Sumarlin muda. Ia duduk dengan takzim di barisan kursi tepat di belakang Widjojo.
Di tengah suasana rapat yang hening dan serius, pandangan mata Sekretaris Presidium Kabinet saat itu, Sudharmono (yang kelak menjadi Wakil Presiden RI), tertuju pada Sumarlin.
Dengan gaya bicaranya yang terkenal lugas, tegas, bahkan cenderung seram, Sudharmono menunjuk jarinya ke arah Sumarlin dan bertanya ketus kepada Widjojo Nitisastro:
Siapa anak kecil yang duduk di belakang kursi Pak Widjojo itu?
Mendengar celetukan itu, Sumarlin seketika kaget dan mati kutu. Merasa perawakannya yang kecil membuatnya terlihat tidak pantas berada di ruang sakral tersebut, ia merasa sangat bersalah.
Saking mindernya, sepulang dari Istana, Sumarlin langsung meminta izin kepada Widjojo agar di sidang-sidang berikutnya ia tidak usah ikut mendampingi lagi. Namun, Widjojo menepis keraguan itu dan terus membesarkan hati sang deputi muda untuk tetap hadir.
Membalikkan Raguan: Menjadi Tumpuan Utama Presiden Soeharto
Waktu berjalan, dan “anak kecil” yang sempat dipertanyakan kehadirannya itu perlahan menunjukkan kapasitas otaknya yang luar biasa.
Sumarlin adalah bagian penting dari kelompok intelektual ekonomi lulusan Amerika Serikat yang dijuluki media sebagai “Mafia Berkeley”. Lewat tangan dingin merekalah, inflasi gila-gilaan di Indonesia berhasil dijinakkan dan roda pembangunan mulai berputar.
Kecerdasan, loyalitas, dan integritas Sumarlin yang bersih perlahan memikat hati Presiden Soeharto. Rasa ragu di awal berganti menjadi kepercayaan mutlak.
Sepanjang era Orde Baru, Soeharto berkali-kali mempercayakan jabatan raksasa kepada Sumarlin, mulai dari:
Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara (Menpan) yang sukses menaikkan kesejahteraan dan harkat para guru.
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Menneg PPN)/Ketua Bappenas.
Hingga puncaknya didapuk sebagai Menteri Keuangan RI pada periode 1988–1993.
Gebukan Sumarlin” yang Menyelamatkan Ekonomi Nasional
Sebagai Menteri Keuangan kesayangan Soeharto, Sumarlin menorehkan tinta emas lewat sebuah kebijakan moneter berani yang dikenal dalam sejarah dengan istilah “Gebukan Sumarlin”.
Saat ekonomi Indonesia terancam oleh lonjakan inflasi yang tinggi akibat pasar yang terlalu cair, Sumarlin mengambil tindakan ekstrem: ia memerintahkan pengetatan likuiditas secara besar-besaran dengan memindahkan dana perusahaan-perusahaan BUMN dari bank-bank umum kembali ke Bank Indonesia.
Kebijakan nekat namun terukur ini sukses besar meredam inflasi dan menyelamatkan mata uang Rupiah dari keterpurukan.
Kepercayaan Soeharto kepada Sumarlin tidak pernah luntur bahkan hingga menjelang runtuhnya era Orde Baru.
Tugas akhir yang diberikan Soeharto kepada Sumarlin adalah memimpin lembaga tinggi negara sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada tahun 1993, berduet dengan mantan Kapolri Jenderal Kunarto sebagai wakilnya—sebuah duet yang dikenang pengamat sebagai kombinasi pemimpin paling jujur dan bersih yang pernah dimiliki BPK.
J.B. Sumarlin mengembuskan napas terakhirnya pada 6 Februari 2020 di usia 87 tahun. Kisah hidupnya seolah mengirim pesan kuat bagi kita semua di media sosial: jangan pernah menilai kemampuan seseorang hanya dari postur tubuh atau penampilan luarnya.
Sebab, sosok yang awalnya diremehkan sebagai “anak kecil” di sudut ruangan, bisa jadi adalah raksasa yang kelak menyelamatkan masa depan sebuah bangsa!
Penulis: Clara Veronica
Mahasiswi Finance & Banking, Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul)
Editor: M. Abdan Msykur
Bahasa: Darsono. AR
Dukung kami melalui donasi:



