Pernyataan “petani tidak pakai dolar” beberapa waktu terakhir ramai diperbincangkan dan dianggap sebagai kalimat yang dekat dengan realitas masyarakat kecil. Sekilas, pernyataan ini terdengar logis.
Petani membeli kebutuhan menggunakan rupiah, menjual hasil panen dengan rupiah, membayar pekerja dengan rupiah, dan melakukan transaksi harian tanpa pernah memegang dolar Amerika Serikat secara langsung.
Jika dilihat dari transaksi sehari-hari, pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Namun persoalannya, ekonomi modern tidak bekerja sesederhana transaksi tunai di tingkat individu.
Ada rantai ekonomi yang jauh lebih panjang, mulai dari bahan baku, distribusi, energi, perdagangan internasional, hingga pasar global. Di titik inilah muncul pertanyaan penting: benarkah petani benar-benar tidak terhubung dengan dolar?
Ekonomi Desa Tidak Hidup Dalam Ruang Tertutup
Sering muncul anggapan bahwa ekonomi desa berdiri sendiri dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi global. Padahal kenyataannya, desa saat ini telah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang saling terhubung.
Aktivitas ekonomi masyarakat desa tidak lagi hanya bergantung pada hasil sawah atau kebun semata.
Banyak kebutuhan sehari-hari masyarakat desa memiliki keterkaitan dengan barang impor atau bahan baku luar negeri. Tepung terigu misalnya berasal dari gandum impor.
Tempe dan tahu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia juga bergantung pada pasokan kedelai luar negeri dalam jumlah besar.
Belum lagi energi, bahan bakar, mesin pertanian, suku cadang kendaraan, hingga alat produksi lainnya.
Dalam perdagangan internasional, transaksi umumnya menggunakan dolar. Ketika nilai dolar naik terhadap rupiah, biaya impor juga meningkat.
Peningkatan biaya ini tidak berhenti di pelabuhan atau perusahaan besar, tetapi bergerak masuk ke rantai distribusi yang lebih kecil hingga akhirnya dirasakan masyarakat.
Karena itu, dampak pergerakan dolar tidak hanya berada di layar bursa keuangan atau ruang rapat ekonomi. Efeknya bisa masuk hingga pasar tradisional, warung desa, bahkan sawah petani kecil.
Pupuk Menjadi Contoh yang Paling Mudah Terlihat
Salah satu dampak yang paling mudah diamati ada pada sektor pupuk. Dalam pertanian, pupuk merupakan kebutuhan utama. Tanpa pupuk, produktivitas hasil panen dapat menurun.
Persoalannya, industri pupuk juga tidak sepenuhnya terlepas dari pasar global.
Harga bahan baku, energi, hingga biaya distribusi sangat dipengaruhi kondisi internasional. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, tekanan biaya produksi bisa meningkat.
Dalam kondisi tertentu, kenaikan biaya tersebut dapat memengaruhi harga yang sampai kepada petani.
Jika biaya produksi naik tetapi harga hasil panen tidak meningkat secara seimbang, keuntungan petani ikut tertekan.
Kelompok yang paling rentan terhadap kondisi seperti ini biasanya petani kecil karena memiliki modal dan ruang bertahan yang lebih terbatas.
Artinya, meskipun petani tidak pernah menukarkan rupiah ke dolar di bank, bukan berarti perubahan nilai dolar tidak memiliki dampak dalam kehidupannya.
Efeknya Sampai ke Warung Kampung dan Daya Beli Warga
Pengaruh ekonomi global sering kali bergerak melalui jalur yang tidak langsung terlihat. Ketika distributor mengalami kenaikan biaya, harga barang di tingkat bawah ikut menyesuaikan.
Minyak goreng, gula, mi instan, sabun, hingga kebutuhan rumah tangga lain dapat mengalami kenaikan harga. Warung kecil di kampung akhirnya harus menyesuaikan harga jual agar tetap bertahan.
Masalahnya, pendapatan masyarakat tidak selalu naik secepat harga barang. Ketika harga kebutuhan meningkat sementara penghasilan relatif tetap, daya beli masyarakat menurun.
Dampaknya bisa berantai. Belanja warga berkurang, utang warung meningkat, perputaran uang melambat, dan ekonomi lokal ikut melemah.
Efek semacam ini sering tidak terlihat dalam perdebatan sederhana mengenai dolar, padahal dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Pada akhirnya, kalimat “petani tidak pakai dolar” mungkin benar jika dimaknai secara harfiah. Namun jika digunakan untuk menyimpulkan bahwa petani tidak terpengaruh kondisi dolar, persoalannya menjadi jauh lebih rumit.
Dalam ekonomi yang saling terhubung seperti saat ini, dampak perubahan global dapat bergerak dari rantai impor, biaya produksi, hingga masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat.
Petani mungkin tidak memegang dolar di tangannya, tetapi perubahan dolar tetap dapat hadir dalam harga pupuk, sembako, biaya hidup, dan kondisi ekonomi yang mereka rasakan setiap hari.
Penulis: Maharani Ismayana Lubis
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Ekonomi Islam, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR
Dukung kami melalui donasi:



