Pendidikan
Beranda » Antara Transmisi Pengetahuan dan Formasi Karakter di Ruang Kelas

Antara Transmisi Pengetahuan dan Formasi Karakter di Ruang Kelas

Guru mengajar di kelas sambil membangun interaksi dan peran guru pendidikan
Gambar ilustrasi dibuat oleh AI

Guru adalah jantung dari aktivitas di kelas. Sering kali kita terjebak pada pandangan mekanistik bahwa guru hanyalah seorang penyampai kurikulum yang kaku. Padahal, jika kita menelaah lebih dalam, realitas di ruang kelas jauh lebih kompleks daripada sekadar menyelesaikan bab-bab di buku teks.

Menjadi guru adalah sebuah upaya sadar untuk menjembatani antara apa yang ideal secara teori dengan apa yang nyata secara sosiologis di lapangan. Di era informasi yang meluap seperti sekarang, tantangan seorang pendidik bukan lagi soal “memberi tahu”, melainkan tentang bagaimana memilah mana yang bermakna bagi siswa.

​Esensi dari pendidikan, sebagaimana sering digaungkan, adalah memanusiakan manusia. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai katalisator. Kita tidak bisa menutup mata bahwa setiap anak membawa latar belakang sosial, ekonomi, dan psikologis yang berbeda saat mereka duduk di bangku kelas.

BACA JUGA: Relevansi Pendidikan Kewarganegaraan bagi Mahasiswa Administrasi Publik.

Seorang guru yang peka tidak akan memaksakan satu standar yang seragam untuk semua kepala, melainkan mencoba mencari celah agar materi yang disampaikan memiliki relevansi dengan hidup mereka. Misalnya, mengajarkan tentang nilai sosial bukan lewat hafalan definisi, melainkan melalui refleksi atas interaksi yang mereka alami sehari-hari.

Ketika Kemampuan Ekonomi Bertemu Praktik Uang Panai

​Namun, di balik idealisme itu, ada realitas pahit yang sering dikritisi oleh pengamat seperti Darmaningtyas. Beliau menyoroti bahwa beban administratif dan tanggung jawab moral guru sering kali tidak sebanding dengan apresiasi yang didapat. Sebagai mahasiswa yang sedang berproses di dunia pendidikan, saya melihat adanya ketidakseimbangan yang nyata, khususnya di Indonesia.

Kita sering menjumpai guru yang seolah ‘tidak mengenal waktu libur’ demi pengabdian, namun ironisnya, mereka mendapatkan perlakuan dan kesejahteraan yang amat jomplang dari yang seharusnya didapatkan. Inilah yang membuat banyak lulusan pendidikan akhirnya memilih jalan karier lain. Ada kalkulasi logis yang tak bisa dihindari ketika pengabdian dipaksa berbenturan dengan realitas kesejahteraan yang belum tuntas.

​Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak dilihat dari seberapa tinggi nilai ujian nasional muridnya, melainkan dari seberapa mampu murid tersebut berpikir kritis dan tetap memiliki empati di tengah dunia yang makin individualis. Mengajar, pada akhirnya, adalah sebuah investasi panjang yang hasilnya mungkin tidak pernah kita lihat sendiri, namun getarannya akan terus terasa di masa depan.

Menjadi guru bukan sekadar soal pekerjaan, melainkan tentang keberanian untuk terus berdiri di antara idealisme dan realitas yang sering kali tidak berpihak.

Penulis: Ruwiyati, NIM: 2381040037
Mahasiswi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), UIN Syekh Nurjati Cirebon

Relevansi Ma’had Mahasiswa di Tengah Tantangan Pendidikan Modern

Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *