Menu

Mode Gelap
 

Analisis · 8 Apr 2026 10:58 WIB ·

IKAMI Sulsel Soroti Narasi Swasembada Pangan, Kritik Feri Amsari Dinilai Tidak Berbasis Data


 IKAMI Sulsel Soroti Narasi Swasembada Pangan, Kritik Feri Amsari Dinilai Tidak Berbasis Data Perbesar

JAKARTA — Polemik terkait klaim swasembada pangan kembali mengemuka. Kali ini, Ketua Umum IKAMI Sulawesi Selatan, Andi In Amul Hasan, melontarkan kritik terhadap pernyataan akademisi Feri Amsari yang menilai pemerintah tidak jujur dalam isu tersebut.

Menurut Andi, narasi yang dibangun Feri Amsari tidak hanya lemah secara basis data, tetapi juga berpotensi menyesatkan opini publik. Ia menegaskan bahwa kritik dalam negara demokrasi sah, namun harus tetap berpijak pada fakta dan ukuran yang objektif.

“Ketika kritik tidak berbasis data, apalagi hanya asumsi, maka itu bukan lagi kontrol demokratis, melainkan potensi disinformasi yang merusak kepercayaan publik,” tegasnya dalam keterangan resmi.

Ia menilai, framing yang menyederhanakan persoalan pangan tanpa melihat capaian riil di lapangan justru berisiko melemahkan legitimasi kebijakan strategis negara.

Data Produksi vs Narasi Kritik

IKAMI Sulsel menyoroti bahwa sektor pertanian nasional menunjukkan tren positif dalam beberapa indikator utama. Produksi padi disebut mencapai sekitar 60 juta ton gabah kering giling, dengan surplus beras hingga jutaan ton dan cadangan pemerintah yang melampaui 4 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah.

Bagi Andi, data tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja dalam membangun narasi publik. Ia menilai, problem utama bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan ketidakseimbangan antara opini dan fakta.

Dalam konteks ini, ia menekankan bahwa kritik tanpa basis empiris justru kontraproduktif, terutama dalam isu strategis seperti ketahanan pangan.

Isu Pangan sebagai Arena Perebutan Narasi

Lebih jauh, IKAMI Sulsel melihat bahwa polemik ini tidak berdiri dalam ruang hampa. Isu swasembada pangan bukan sekadar persoalan teknis produksi, tetapi juga arena pertarungan narasi antara keberhasilan kebijakan dan skeptisisme publik.

Andi mengingatkan bahwa narasi yang tidak akurat dapat menciptakan distrust terhadap institusi negara, bahkan berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan ekonomi tertentu dalam sektor pangan.

Sejumlah pihak bahkan menilai narasi yang melemahkan capaian pangan nasional dapat membuka ruang bagi kepentingan yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan impor.

Menjaga Kritik Tetap Rasional

IKAMI Sulsel menegaskan bahwa kritik tetap diperlukan dalam demokrasi. Namun, kritik yang tidak terukur justru berpotensi mengaburkan realitas dan memperkeruh ruang publik.

Dalam situasi global yang penuh tekanan terhadap sektor pangan—mulai dari perubahan iklim hingga volatilitas geopolitik—narasi publik yang tidak berbasis data dinilai dapat melemahkan posisi strategis negara.

Polemik ini menunjukkan satu hal mendasar: perdebatan bukan lagi soal setuju atau tidak, tetapi soal siapa yang mampu menghadirkan argumen berbasis fakta, bukan sekadar opini.

Artikel ini telah dibaca 29 kali

Baca Lainnya

Paradoks Ade Armando

14 April 2026 - 10:23 WIB

Ade Armando dalam konteks paradoks peran akademisi dan media digital

Saat SMRC dan Tempo Didemo, Ke Mana Arah Kritik Publik?

14 April 2026 - 09:40 WIB

Aksi demo SMRC Tempo oleh massa terkait pernyataan politik dan pemberitaan media

Di Balik Angka: Peran Strategis Enumerator dalam Menentukan Arah Kebijakan Publik

14 April 2026 - 08:45 WIB

Enumerator survei publik berfoto di depan plang desa lokasi pengumpulan data lapangan

Seminar Vibes Dakwah di Ketapang Bahas Kepemimpinan Modern dan Tradisional

12 April 2026 - 15:03 WIB

Peserta mengikuti seminar vibes dakwah tentang kepemimpinan modern di Ketapang secara interaktif

Sekjen PP IPNU Agus Tanjung: Isu Makar Ancaman Nyata, Kita Lawan Bersama

11 April 2026 - 10:39 WIB

Agus Tanjung menyampaikan pernyataan keras terkait isu makar indonesia di ruang publik

Ketua GMNI Maluku Utara Minta Mabes Polri Evaluasi Wadir Intelkam Polda Malut

8 April 2026 - 15:19 WIB

Ketua GMNI Maluku Utara menyampaikan tuntutan evaluasi aparat kepolisian terkait dugaan intimidasi
Trending di Opini