Analisis
Beranda » Menelusuri Sosok Mahapati Majapahit dan Jejak Makam yang Mulai Terabaikan

Menelusuri Sosok Mahapati Majapahit dan Jejak Makam yang Mulai Terabaikan

ilustrasi-kondisi-makam-mahapati-majapahit

Nama Mahapati mungkin tidak terlalu populer dibanding Gajah Mada atau Hayam Wuruk ketika membahas sejarah Kerajaan Majapahit.

Namun dalam beberapa naskah sejarah Jawa kuno, sosok ini justru dikenal sebagai tokoh penuh intrik yang sering dikaitkan dengan berbagai konflik politik pada masa awal berdirinya Majapahit.

Belakangan, perhatian terhadap Mahapati kembali muncul setelah adanya pembahasan mengenai makam yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai makam Mahapati atau Rama Patih.

Kondisinya disebut kurang terawat dan mulai jarang diperhatikan. Meski belum ada kepastian akademik mengenai lokasi makam tersebut, isu ini membuat nama Mahapati kembali ramai dibicarakan, terutama di kalangan pemerhati sejarah lokal.

Mahapati dikenal melalui naskah Pararaton dan Kidung Sorandaka. Dalam catatan tersebut, ia digambarkan sebagai pejabat kerajaan yang memiliki ambisi besar dalam lingkar kekuasaan Majapahit. Sosoknya sering dikaitkan dengan politik adu domba dan konflik elite kerajaan.

Saat Viral Menjadi Berita: Bagaimana Media Sosial Mengubah Wajah Jurnalisme

Namun penting dipahami, sumber seperti Pararaton bukan sepenuhnya catatan sejarah modern. Isi naskah tersebut bercampur antara fakta sejarah, sastra, dan narasi politik kerajaan. Karena itu, kisah tentang Mahapati tidak bisa langsung dipahami secara hitam putih.

Sosok Mahapati dalam Catatan Sejarah Majapahit

Dalam Pararaton, Mahapati disebut mulai muncul dalam konflik antara Ranggalawe dan Nambi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

Saat itu Nambi diangkat menjadi patih kerajaan. Keputusan tersebut disebut memicu ketegangan dengan Ranggalawe. Dalam cerita Pararaton, Mahapati digambarkan sebagai tokoh yang memperkeruh hubungan keduanya hingga memicu pemberontakan.

Konflik tersebut akhirnya menyebabkan Ranggalawe tewas dalam pertempuran di Sungai Tambak Beras.

Nama Mahapati kembali muncul dalam kisah yang melibatkan Lembu Sora dan Mahisa Taruna. Dalam naskah kuno, ia disebut berperan dalam memunculkan konflik lanjutan melalui berbagai hasutan politik.

Dari Kampus ke Medan Perjuangan: Menelusuri Jejak Letjen (Anumerta) Hertasning dalam Sejarah Indonesia

Tidak berhenti di situ, pada masa Raja Jayanagara, Mahapati juga dikaitkan dengan peristiwa yang menyebabkan kematian Nambi dan keluarganya di Lamajang.

Dalam Pararaton, Mahapati disebut melapor kepada raja bahwa Nambi sedang menyiapkan pemberontakan ketika mengambil cuti setelah ayahnya meninggal dunia.

Akibat laporan tersebut, pasukan kerajaan dikirim ke Lamajang dan konflik pun pecah.

Karena sering muncul dalam berbagai konflik itu, Mahapati kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah awal Majapahit.

Meski begitu, para sejarawan modern mengingatkan bahwa konflik politik Majapahit saat itu kemungkinan jauh lebih rumit dibanding yang digambarkan dalam Pararaton.

IKN: Antara Keraguan, Sejarah Kegagalan dan Pertaruhan Masa Depan Indonesia

Bisa saja ada perebutan pengaruh antarelite kerajaan yang kemudian disederhanakan dalam bentuk cerita mengenai satu tokoh penghasut.

Jadi, Mahapati hari ini lebih tepat dipahami sebagai tokoh kontroversial dalam tradisi sejarah Jawa kuno, bukan semata-mata tokoh jahat seperti dalam cerita populer.

Makam yang Diyakini Milik Mahapati

Perhatian terhadap Mahapati kembali muncul setelah adanya pembahasan soal makam yang dipercaya masyarakat sebagai makamnya.

Beberapa warga menyebut lokasi tersebut mulai kurang diperhatikan dan tidak mendapatkan perawatan maksimal. Kondisinya disebut cukup sepi dan jarang diketahui masyarakat luas, terutama generasi muda.

Namun hingga sekarang, keberadaan makam Mahapati sebenarnya masih menjadi perdebatan. Belum ada bukti arkeologis kuat yang benar-benar memastikan bahwa makam tersebut memang milik Mahapati.

Kondisi terkini struktur makam Mahapati Majapahit yang mulai terabaikan di tengah area situs sejarah lokal.

Dok. Kondisi fisik situs yang diyakini sebagai makam Mahapati, tokoh penuh intrik dalam sejarah awal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Sebagian besar informasi mengenai lokasi makam hanya berasal dari cerita turun-temurun masyarakat sekitar.

Hal seperti ini sebenarnya cukup umum dalam sejarah Indonesia. Banyak makam tokoh kerajaan yang dipercaya masyarakat berdasarkan tradisi lisan, tetapi belum seluruhnya didukung penelitian akademik yang kuat.

Meski demikian, keberadaan situs seperti ini tetap penting karena menjadi bagian dari memori sejarah lokal. Terlepas benar atau tidaknya sebagai makam Mahapati, tempat tersebut tetap menunjukkan bahwa cerita tentang Majapahit masih hidup di tengah masyarakat.

Sayangnya, perhatian terhadap situs sejarah kecil seperti ini sering kalah dibanding tempat wisata sejarah yang lebih populer.

Padahal situs-situs semacam itu bisa menjadi bagian penting dalam memahami sejarah Majapahit secara lebih luas, terutama sisi politik dan konflik internal kerajaan.

Sejarah Tidak Selalu Tentang Tokoh Pahlawan

Ketika membahas Majapahit, banyak orang lebih mengenal kisah kejayaan kerajaan, ekspansi wilayah, atau tokoh besar seperti Gajah Mada. Namun sejarah kerajaan besar juga dipenuhi konflik internal dan perebutan kekuasaan.

Mahapati menjadi salah satu simbol dari sisi gelap politik Majapahit tersebut.

Terlepas apakah seluruh cerita tentang dirinya benar atau tidak, nama Mahapati tetap bertahan dalam catatan sejarah hingga sekarang. Itu menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya mengingat tokoh heroik, tetapi juga tokoh kontroversial yang pernah memengaruhi jalannya kekuasaan.

Pembahasan soal makam Mahapati yang mulai terabaikan juga menjadi pengingat bahwa banyak jejak sejarah lokal di Indonesia belum mendapat perhatian serius.

Padahal sejarah bukan hanya tentang membanggakan masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana konflik, ambisi politik, dan perebutan kekuasaan pernah membentuk perjalanan sebuah kerajaan besar.

Dari kisah Mahapati, satu hal yang terasa masih relevan hingga hari ini adalah bahwa ancaman terbesar dalam sebuah kekuasaan kadang bukan datang dari luar, melainkan dari konflik dan intrik yang tumbuh di dalam lingkar kekuasaan itu sendiri.

Penulis: Windy Wulandari
Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa