Jika berbicara tentang miniatur kebhinekaan yang hidup dan bernapas setiap hari, pikiran saya langsung tertuju ke tanah Kalimantan Barat.
Tinggal di provinsi ini memberi saya kesempatan untuk menyaksikan secara langsung bagaimana keragaman bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan realitas keseharian yang karib.
Di sini, masjid, gereja, kelenteng, dan vihara sering kali berdiri berdampingan, sementara denyut kehidupan masyarakatnya diwarnai oleh perjumpaan antarsuku seperti Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Jawa, dan banyak lagi.
Bagi saya, merawat harmoni di Kalimantan Barat menuntut lebih dari sekadar toleransi pasif yang saling mendiamkan. Yang kita butuhkan adalah moderasi beragama yang hidup—sebuah sikap wasathiyah (jalan tengah) yang aktif menjembatani perbedaan, menolak ekstremisme, dan merayakan kebersamaan tanpa harus kehilangan identitas keyakinan masing-masing.
Kearifan lokal di bumi Kalbar telah lama mengajarkan kita arti penting hidup berdampingan secara damai. Tradisi seperti Robok-Robok, perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang disambut meriah oleh seluruh elemen masyarakat, hingga ruang-ruang publik di warung kopi tempat berbagai latar belakang melebur dalam satu meja obrolan, adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita memiliki modal sosial yang luar biasa. Ketahanan budaya ini lahir dari kearifan lokal yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan saling menghormati.
Namun, di tengah arus zaman yang kian terbuka, modal sosial ini tidak boleh dibiarkan berjalan begitu saja. Polarisasi global dan penetrasi narasi keagamaan yang sempit sewaktu-waktu bisa menyusup dan meretakkan kerukunan yang telah dirajut berpuluh-puluh tahun oleh para pendahulu kita. Di sinilah moderasi beragama menjadi kompas moral.
Menghidupkan moderasi beragama di Kalimantan Barat berarti menumbuhkan dua hal mendasar: kelapangan dada dalam berkeyakinan dan kedalaman empati dalam berinteraksi.
Agama harus dipahami sebagai sumber kedamaian dan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan sebagai tembok pemisah yang menumbuhkan kecurigaan antargolongan.
Ketika seseorang memeluk agamanya secara moderat, ia tidak akan merasa terancam oleh kehadiran keyakinan orang lain, melainkan justru melihatnya sebagai bagian dari kekayaan ciptaan Tuhan.
Sebagai bagian dari masyarakat Kalimantan Barat, saya percaya bahwa menjaga kedamaian di tanah ini adalah tanggung jawab kolektif kita bersama.
Moderasi beragama harus terus digaungkan mulai dari ruang-ruang kelas, rumah ibadah, hingga perbincangan santai di warung kopi. Sebab, kedamaian yang kita nikmati hari ini adalah warisan paling berharga yang kelak harus kita teruskan kepada generasi masa depan.

Penulis: Delsa
Mahasiswa Megister Ekonomi Syariah, IAIN Pontianak
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si.
Editor: Herwani Asfariadi
Dukung kami melalui donasi:



