Mahasiswa
Beranda » Kewirausahaan di Kalangan Mahasiswa: Peluang dan Tantangannya

Kewirausahaan di Kalangan Mahasiswa: Peluang dan Tantangannya

Kewirausahaan mahasiswa melalui pengembangan usaha makanan hewan, pakaian, dan jasa pembersihan sepatu.

Menjadi mahasiswa tidak lagi berarti hanya belajar di kelas. Saat ini banyak mahasiswa yang juga menjalankan usaha, mulai dari berjualan makanan, menjual pakaian secara daring, hingga membuka jasa desain.

Salah satu contohnya dapat dilihat di lingkungan tempat tinggal penulis. Muhammad Fauzaan Hibatullah, teman penulis, memulai usaha makanan kucing bernama Nafa Jaya bersama kakak perempuannya. Setelah itu, ia mengembangkan ide usaha lain berupa brand pakaian sendiri bernama Vox Ex Corde, kemudian mencoba membuka usaha jasa pembersihan sepatu dengan nama brand southrush.id.

Menurut Fauzaan, perluasan ide usaha tersebut berawal dari riset pasar ulang yang membuatnya sadar bahwa usaha tidak cukup berdasarkan apa yang disukai, tetapi juga harus memahami kebutuhan pasar. Hal itu mendorongnya mengeksplorasi bidang usaha lain tanpa meninggalkan usaha yang sudah berjalan, di samping pertimbangan lain seperti persaingan pasar.

kewirausahaan-mahasiswa-memulai-usaha

Kewirausahaan adalah kemampuan untuk melihat peluang, berani mengambil risiko, dan membangun usaha yang memberikan manfaat bagi orang lain sekaligus menghasilkan keuntungan. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang dipelajari ke dalam kegiatan bisnis yang nyata.

Ketika Rakyat Mencari Air, PBAK Justru Bermain Air

Meskipun demikian, memulai usaha saat masih berstatus mahasiswa tidak selalu mudah. Oleh karena itu, artikel ini membahas alasan mahasiswa berwirausaha, peluang dan tantangannya, serta langkah yang dapat dilakukan untuk memulainya.

Mengapa Mahasiswa Tertarik Berwirausaha?

Ada beberapa alasan yang umumnya mendorong mahasiswa untuk mencoba berwirausaha. Sebagian ingin memiliki penghasilan sendiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada uang saku. Sebagian lain ingin mengasah kemampuan di luar perkuliahan, atau terdorong setelah melihat teman di sekitarnya mulai berusaha. Ada pula yang menyadari bahwa lapangan kerja tidak selalu mudah dimasuki, sehingga menciptakan usaha sendiri menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.

Fauzaan sendiri punya alasan yang lebih dari sekadar penghasilan. “Bagi saya, berwirausaha bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga tentang keberanian mengambil peluang, belajar memahami pasar, dan menciptakan sesuatu yang memiliki nilai,” ujarnya kepada penulis. Ia ingin memanfaatkan masa kuliah bukan hanya untuk belajar secara akademis, tetapi juga untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam dunia usaha.

Minat tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperbanyak wirausaha. Kementerian UMKM mencatat rasio kewirausahaan nasional pada 2025 mencapai 3,29 persen, melampaui target 3,10 persen (Investortrust, 2025). Meski begitu, menurut Menteri Perdagangan, negara maju umumnya memiliki rasio kewirausahaan sekitar 10-12 persen (Bisnis.com, 2025). Pemerintah pun menargetkan rasio tersebut naik menjadi 3,6 persen dalam RPJMN 2025-2029, dengan memanfaatkan bonus demografi yang didominasi anak muda produktif (BCA Sekuritas, 2025).

Jenis Usaha yang Banyak Dijalankan Mahasiswa

Usaha mahasiswa sangat beragam. Kuliner, fesyen, jasa, dan penjualan ulang produk (reseller) termasuk yang sering dipilih karena modalnya relatif kecil dan mudah dijalankan. Contoh di awal tulisan ini menunjukkan variasinya: satu orang bisa mencoba usaha makanan hewan, pakaian, hingga jasa pembersihan sepatu.

Kelompok Cipayung Desak DPRD Serius Jawab Persoalan Rakyat: 9 Tuntutan Disampaikan Langsung ke Ketua DPRD

Peluang Kewirausahaan bagi Mahasiswa

Terdapat beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk memulai usaha.

Perkembangan teknologi dan media sosial: media sosial dan marketplace memudahkan mahasiswa memasarkan produk tanpa harus memiliki toko. Lewat Instagram atau WhatsApp, mahasiswa dapat memperkenalkan produk melalui foto, video, dan testimoni pembeli dengan biaya promosi yang relatif kecil.

Modal awal yang terjangkau: beberapa jenis usaha, seperti makanan rumahan, jasa, dan penjualan sistem dropship, dapat dimulai dengan modal terbatas.

Pasar yang dekat: teman kampus, anggota organisasi, dan penghuni kos dapat menjadi konsumen pertama. Mahasiswa juga memahami kebutuhan lingkungannya sehingga lebih mudah menyesuaikan produk.

Pengalaman dan keterampilan: berwirausaha melatih kemampuan mengambil keputusan, mengelola keuangan, berkomunikasi, dan bekerja sama. Kemampuan tersebut bermanfaat untuk masa depan, baik saat bekerja maupun saat mengembangkan usaha sendiri.

Mahasiswa KKN Unhas Hadirkan Program Basic English Communication untuk Mendukung Pelayanan Publik di Desa Moncongloe

Tantangan yang Dihadapi Mahasiswa

Di balik peluang tersebut, mahasiswa juga akan dihadapkan dengan sejumlah tantangan.

  1. Keterbatasan waktu: Kegiatan kuliah, tugas, dan organisasi sudah menyita waktu. Jika tidak mampu mengatur waktu dan menentukan prioritas, kegiatan usaha maupun perkuliahan dapat terganggu. Fauzaan mengakui hal ini sebagai tantangan terbesarnya: kuliah dan usaha sama-sama membutuhkan komitmen, sementara waktu dan tenaga terbatas. Menurutnya, kuncinya bukan melakukan semuanya sekaligus, melainkan memahami prioritas, mengambil keputusan dengan tepat, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.
  2. Keterbatasan modal: Usaha dapat dimulai dari kecil, tetapi modal tetap dibutuhkan ketika usaha ingin berkembang, misalnya untuk menambah stok, memperbaiki kemasan, atau memperluas promosi.
  3. Kurangnya pengalaman dalam mengelola keuangan: Banyak mahasiswa belum terbiasa menghitung biaya, menentukan harga, dan mencatat pengeluaran. Misalnya, sebuah produk dibeli seharga Rp20.000 dan dijual Rp30.000. Keuntungannya tampak Rp10.000, padahal biaya kemasan, ongkos kirim, dan promosi belum dihitung. Tanpa pencatatan, penjualan terlihat ramai tetapi keuntungan sebenarnya tidak jelas. Uang usaha dan uang pribadi pun mudah tercampur.
  4. Persaingan: Usaha yang mudah dimulai juga mudah ditiru. Sebagaimana terlihat pada contoh di awal, riset pasar ulang dan persaingan dapat mendorong pelaku usaha mengeksplorasi peluang baru agar usahanya terus berkembang. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keunggulan, baik dari segi kualitas, desain, maupun pelayanan.
  5. Konsistensi: Usaha tidak selalu langsung menghasilkan. Ada mahasiswa yang berhenti di tengah jalan karena hasil belum sesuai harapan, kurang riset pasar sejak awal, atau kehilangan semangat ketika penjualan sepi.

Dukungan Kampus dan Lingkungan

Mahasiswa tidak harus menjalani proses ini sendirian. Banyak kampus menyediakan program kewirausahaan, pelatihan, bazar, atau komunitas bisnis yang dapat dimanfaatkan. Contoh nyata yang paling relevan, Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam UNPAM menyelenggarakan Pekan Kewirausahaan pada 16 dan 20 Desember 2025. Mahasiswa memamerkan produk kuliner, produk kreatif, dan jasa, sekaligus berlatih memasarkan produk dan bekerja sama dalam tim. Selain itu, belajar dari dosen dan pelaku usaha yang lebih berpengalaman dapat membantu mahasiswa menghadapi masalah yang muncul.

Perhatikan Etika dan Legalitas Usaha

Usaha kecil pun perlu dijalankan dengan jujur. Informasi produk dalam promosi harus sesuai kenyataan, kualitas barang perlu dijaga, dan hak konsumen harus dihormati. Ketika usaha mulai berkembang, mahasiswa juga dapat mulai mengenal perizinan sederhana, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), agar usahanya lebih terpercaya dan siap tumbuh. Pengurusan NIB melalui sistem OSS tidak dipungut biaya dan pelaku usaha cukup menyiapkan NIK berupa e-KTP (Bisnis.com, 2023). Setelah memiliki NIB, pelaku usaha dapat mengajukan izin usaha serta izin operasional sesuai bidangnya (Sekretariat Kabinet, 2022). Sepanjang 2023 saja, sistem OSS menerbitkan sekitar 7,14 juta NIB yang sebagian besar untuk usaha mikro (Bisnis.com, 2023).

Langkah Sederhana Memulai Usaha

Bagi mahasiswa yang tertarik mencoba, beberapa langkah berikut dapat menjadi awal:

  1. Tentukan produk atau jasa yang sesuai dengan minat dan kebutuhan lingkungan sekitar.
  2. Kenali calon konsumen, perhatikan usaha sejenis yang sudah ada, dan pahami apa yang benar-benar dibutuhkan pasar, bukan hanya apa yang disukai.
  3. Mulai dari skala kecil agar risiko kerugian tidak besar.
  4. Catat pemasukan dan pengeluaran sejak hari pertama.
  5. Evaluasi secara berkala, lalu perbaiki produk, harga, atau cara promosi.

Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga keseimbangan. Kegiatan usaha sebaiknya tidak mengganggu kewajiban akademik karena kuliah tetap menjadi tanggung jawab utama mahasiswa.

Penutup

Kewirausahaan memberikan banyak peluang bagi mahasiswa, mulai dari kemudahan teknologi, modal awal yang terjangkau, pasar yang dekat, hingga pengalaman yang bermanfaat. Namun, mahasiswa juga perlu menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu, modal, pengalaman, persaingan, dan konsistensi.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki perencanaan yang jelas, mengelola keuangan dengan baik, menjalankan usaha secara jujur, dan memanfaatkan dukungan yang tersedia. Dengan persiapan yang matang, kewirausahaan dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk membangun masa depan yang lebih mandiri. Sebagaimana diungkapkan Fauzaan, berwirausaha adalah proses untuk terus beradaptasi karena peluang bisa datang dari arah yang berbeda selama kita mau belajar dan jeli melihat kesempatan.


Penulis: Muhammad Pradhitya Arrahman
Mahasiswa Program Studi Manajemen Program Sarjana, Universitas Pamulang


Dosen pengampu: Nopi Oktavianti, S.E,, M.M.


Edotor: Muh. Abdan Masykur

Dukung kami melalui donasi:

QRIS donasi Aktivis Mahasiswa