Kegiatan Domestic Student Mobility (DSM) yang diselenggarakan oleh Program Studi Sains Data UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan pengalaman secara langsung kepada mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana materi yang dipelajari selama perkuliahan diterapkan dalam lingkungan kerja.
Pada 11 Mei 2026, kelompok kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi dua instansi pemerintah di Jakarta, yaitu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), khususnya Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI).
Kunjungan tersebut memberikan wawasan yang lebih nyata mengenai penerapan sains data dalam bidang riset, inovasi, dan pengelolaan data di instansi pemerintahan.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, seluruh peserta mengikuti pembekalan sebagai persiapan. Pada sesi tersebut dijelaskan mengenai tata tertib, alur pelaksanaan kegiatan, serta tugas yang harus diselesaikan selama maupun setelah kegiatan DSM berakhir.
Pembekalan ini membantu seluruh peserta memahami tujuan kegiatan sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.
Pengalaman Lapangan: Kunjungan ke BRIN
Kunjungan pertama dilaksanakan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka silaturahmi antarlembaga sekaligus paparan mengenai Rencana Kerja Strategis BRIN Tahun 2026.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa visi BRIN adalah menjadi penghela utama dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi yang berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Misinya meliputi penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional, peningkatan kontribusi terhadap Visi Indonesia Emas 2045, serta penguatan tata kelola penyelenggaraan riset dan inovasi yang berkualitas.
Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah pemaparan mengenai sinergi Agenda Riset dan Inovasi Nasional antara BRIN dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Sinergi tersebut mencakup integrasi skema pendanaan dan kerja sama, mekanisme akses infrastruktur riset terbuka, pembentukan konsorsium riset, penguatan hilirisasi bersama industri, hingga pengembangan talenta dan mobilitas periset melalui program seperti BRIN Goes to Campus.
Selain itu, BRIN juga memaparkan sejumlah program quick wins tahun 2026, di antaranya Rumah Inovasi Indonesia, Rumah Inovasi Daerah, BRIN Research Control Center, dan BRIN Innovation Application.
Program-program tersebut menunjukkan bagaimana lembaga riset pemerintah berupaya mempercepat hilirisasi hasil riset kepada masyarakat dan industri.
Pada sesi tanya jawab, terdapat pertanyaan menarik mengenai kompetensi yang perlu dimiliki mahasiswa agar dapat berkontribusi dalam dunia riset, inovasi, dan kebijakan ilmu pengetahuan.
Narasumber menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris, kompetensi metode penelitian dan penulisan jurnal, kemampuan komunikasi publik, penguasaan sistem informasi dan komputerisasi, pemahaman terhadap kecerdasan buatan (AI), serta kebiasaan membaca untuk memperluas wawasan.
Jawaban ini memberikan gambaran yang jelas mengenai kompetensi yang perlu terus diasah sebagai mahasiswa Sains Data.
Pengalaman Lapangan: Kunjungan ke Kemenkomdigi (PDSI)
Kunjungan kedua dilaksanakan di Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) melalui paparan dari Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI).
Dalam paparannya, PDSI menjelaskan posisi, peran, dan struktur organisasinya di lingkungan Kemenkomdigi yang mencakup peran sebagai Chief Information Officer (CIO), Chief Information Security Officer (CISO), Walidata Kemenkomdigi, sekaligus Single Point of Contact sebagai pusat layanan publik.
Struktur internalnya terbagi ke dalam tujuh bidang, mulai dari infrastruktur informatika, keamanan siber, layanan digital, manajemen data dan analitik, tata kelola dan risiko teknologi informasi, komunikasi TI, hingga analisis solusi bisnis TI.
Materi yang paling relevan dengan bidang keilmuan saya adalah pemaparan mengenai Satu Data Indonesia sesuai Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019, yaitu kebijakan tata kelola data pemerintah agar data yang dihasilkan akurat, mutakhir, terpadu, dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan antarinstansi pusat maupun daerah.
Prinsip tersebut diwujudkan melalui pemenuhan standar data, metadata, interoperabilitas data, serta penggunaan kode referensi dan data induk. PDSI juga menjelaskan alur penyelenggaraan Satu Data Indonesia mulai dari perencanaan data, pengumpulan data, pemeriksaan data, pemeriksaan data prioritas, hingga penyebarluasan data melalui Portal Data Komdigi (data.komdigi.go.id), dengan melibatkan Dewan Pengarah, Pembina Data, Walidata, Produsen Data, Forum Satu Data, dan Sekretariat SDI.
Bagian yang menurut saya paling aplikatif adalah penjelasan mengenai alur manajemen data dan analitik, mulai dari produsen data di unit kerja, tata kelola standar dan metadata, integrasi melalui API/service bus, penyimpanan pada platform big data, hingga penyajian insight dalam bentuk dashboard dan analitik.
PDSI turut memberikan contoh nyata pipeline pengolahan data, yaitu proses data pegawai dari sistem SIMPATIK yang diolah melalui platform big data internal, sistem data engineering, dan data warehouse, hingga akhirnya disajikan dalam dashboard menggunakan Apache Superset.
Sementara itu, Apache Atlas digunakan untuk mengelola metadata dan lineage data agar dapat ditelusuri serta dipertanggungjawabkan.
Selain itu, disampaikan pula prinsip visualisasi data yang baik, yaitu memiliki tujuan yang jelas, indikator yang tepat, sumber yang tepercaya, tampilan yang sederhana, akses yang aman, serta dapat ditindaklanjuti. Sebagaimana ditegaskan dalam paparan, visualisasi yang baik dimulai dari data yang dikelola dengan baik.
Di akhir paparan, PDSI menyampaikan peluang peran mahasiswa Sains Data dalam pemerintahan, di antaranya sebagai data analyst, data engineer, data scientist/AI, data governance, dashboard developer, maupun policy data translator.
Kontribusi nyata tersebut dapat diwujudkan melalui riset berbasis open data, pembuatan dashboard, analisis kebijakan, hingga keikutsertaan dalam hackathon atau kompetisi data.
Hasil Pengamatan dan Pembelajaran
Dari kedua kunjungan tersebut, terdapat beberapa poin pembelajaran penting yang saya peroleh.
Pertama, penerapan sains data di sektor pemerintahan tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam kerangka regulasi yang jelas, seperti Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Oleh karena itu, pengelolaan data pemerintah harus mempertimbangkan aspek tata kelola, standar, dan kepatuhan, tidak hanya aspek teknis analitik semata.
Kedua, saya memahami bahwa proses data di instansi pemerintah mengikuti alur yang terstruktur, mulai dari data mentah di sumbernya hingga menjadi insight yang mendukung pengambilan keputusan. Dengan demikian, peran data engineer dan data governance sama pentingnya dengan peran data analyst maupun data scientist.
Ketiga, saya menyadari pentingnya kualitas, keamanan, dan privasi data, khususnya terkait klasifikasi data terbuka, terbatas, dan rahasia, serta pembatasan akses berbasis peran (role-based access) agar keterbukaan data tidak mengorbankan aspek keamanan.
Keempat, dari kunjungan ke BRIN saya belajar bahwa ekosistem riset dan inovasi nasional membutuhkan sinergi lintas lembaga serta kesiapan talenta muda, termasuk mahasiswa, untuk berkontribusi melalui riset berbasis data terbuka maupun kolaborasi program seperti BRIN Goes to Campus.
Kelima, pengalaman ini turut meningkatkan kesiapan kerja (job readiness) saya, baik dari sisi kedisiplinan, komunikasi profesional, maupun kemampuan memahami konteks kebijakan di balik pengelolaan data pemerintahan.
Refleksi Kritis
Secara keseluruhan, kegiatan DSM ini memberikan pengalaman berharga yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas, khususnya dalam memahami bagaimana kebijakan tata kelola data seperti Satu Data Indonesia benar-benar diimplementasikan dalam sistem nyata di kementerian.
Namun demikian, saya juga menyadari adanya keterbatasan, seperti singkatnya waktu kunjungan yang membuat pemahaman terhadap detail teknis pipeline data di PDSI maupun mekanisme pendanaan riset di BRIN belum dapat digali secara mendalam.
Ke depan, saya berharap durasi kunjungan lapangan dapat diperpanjang atau disertai dengan sesi praktik langsung (hands-on), misalnya simulasi penggunaan dashboard Superset atau Portal Data Komdigi, agar mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.
Pengalaman ini juga mendorong saya untuk semakin serius mempersiapkan diri, baik dari sisi kompetensi teknis seperti penguasaan tools analisis dan visualisasi data maupun soft skill seperti komunikasi publik dan penulisan ilmiah sebagaimana disarankan oleh narasumber BRIN.
Saya menyadari bahwa dunia kerja, baik di lembaga riset maupun kementerian, menuntut kesiapan yang menyeluruh, mulai dari kemampuan akademik, pemahaman regulasi, hingga kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan.
Penutup
Kegiatan Domestic Student Mobility (DSM) Program Studi Sains Data UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan ke BRIN dan Kemenkomdigi telah memberikan kontribusi besar dalam memperluas wawasan saya mengenai ekosistem riset dan inovasi nasional serta tata kelola data pemerintahan melalui kerangka Satu Data Indonesia.
Melalui pengalaman langsung di lapangan, saya semakin memahami relevansi antara ilmu Sains Data yang dipelajari di perkuliahan dengan kebutuhan nyata dalam mendukung kebijakan berbasis data dan layanan publik digital. Semoga pengalaman ini dapat menjadi bekal berharga dalam menghadapi tantangan dunia kerja di masa mendatang.
Penulis: Yuniar Zahra Wiyani
Program Studi Sains Data, Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UINGUSDUR)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Dukung kami melalui donasi:



