Sukadana – Berangkat dari kawasan transmigrasi di Desa Tunggal Bhakti, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Ferdy Hasan Haswin berhasil mengukir prestasi di tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Ia meraih Juara 2 Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH) pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026 yang berlangsung di Kabupaten Kayong Utara.
MTQ Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026 digelar pada 1–9 Agustus 2026 di Kabupaten Kayong Utara dan diikuti oleh peserta dari 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Barat. Cabang Karya Tulis Ilmiah Hadis menjadi salah satu cabang yang menguji kemampuan peserta dalam mengembangkan kajian hadis secara ilmiah dan relevan dengan persoalan kehidupan masyarakat.
Perjalanan Ferdy dalam kompetisi tersebut berlangsung melalui tiga tahapan. Ia mengikuti babak penyisihan pada 4 Agustus 2026, kemudian melanjutkan ke babak semifinal pada 6 Agustus 2026. Setelah berhasil melewati dua tahapan tersebut, Ferdy tampil pada babak final 7 Agustus 2026 dan berhasil meraih posisi Juara 2 KTIH Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2026.
Pada babak final, Ferdy mengangkat karya tulis ilmiah berjudul “Merajut Kerukunan Umat Beragama Melalui Nilai-Nilai Haji Wada’.” Karya tersebut membahas pesan-pesan Nabi Muhammad SAW dalam Haji Wada’, terutama mengenai nilai kesetaraan manusia dan relevansinya dalam membangun kerukunan umat beragama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Dalam karya tersebut, Ferdy menyoroti bahwa kerukunan tidak cukup hanya dibangun melalui sikap toleransi atau tasamuh. Menurut gagasan yang dikembangkannya, toleransi membutuhkan fondasi yang lebih mendasar, yaitu musawah atau kesetaraan.
Melalui perspektif hadis, konsep tersebut kemudian diarahkan pada nilai kesetaraan martabat manusia, penghormatan terhadap perbedaan, penolakan terhadap diskriminasi, serta perlakuan yang adil dalam kehidupan bermasyarakat. Gagasan itu menjadi upaya untuk menjadikan nilai-nilai hadis tidak hanya sebagai kajian keagamaan, tetapi juga sebagai solusi terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat yang plural.
Berangkat dari Sekolah dengan Keterbatasan
Di balik prestasi tersebut terdapat perjalanan pendidikan yang cukup panjang. Ferdy tumbuh dan menempuh pendidikan dasar di Desa Tunggal Bhakti, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, kawasan transmigrasi yang berada jauh dari pusat perkotaan.
Pada masa sekolah dasar, ia belajar dalam kondisi yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi infrastruktur pendidikan maupun ketersediaan tenaga pendidik. Bahkan, selama menempuh pendidikan dasar, Ferdy mengaku tidak pernah mendapatkan mata pelajaran Bahasa Inggris.
Kondisi tersebut tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti mengembangkan diri. Justru dari lingkungan dengan keterbatasan itulah semangat untuk terus belajar tumbuh. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik, organisasi, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke berbagai ruang akademik dan organisasi. Ferdy merupakan mantan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak periode 2025–2026. Pengalaman memimpin organisasi mahasiswa menjadi salah satu proses yang membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, advokasi, serta keberaniannya dalam menyampaikan gagasan.
Bukan Sekadar Prestasi Pribadi
Bagi Ferdy, capaian Juara 2 KTIH tingkat Provinsi Kalimantan Barat bukan sekadar penghargaan dalam sebuah kompetisi. Prestasi tersebut menjadi pembuktian bahwa anak-anak yang tumbuh dari daerah dengan keterbatasan akses pendidikan tetap memiliki kesempatan untuk bersaing dan berprestasi di tingkat provinsi.
Perjalanan dari Desa Tunggal Bhakti menuju panggung MTQ Provinsi Kalimantan Barat di Kayong Utara juga menjadi gambaran bahwa keterbatasan fasilitas tidak seharusnya menjadi batas bagi seseorang untuk memiliki cita-cita.
Dari sebuah kawasan transmigrasi di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Ferdy membawa gagasan tentang hadis, kesetaraan, dan kerukunan umat beragama hingga ke tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi kebanggaan bagi daerah asalnya dan menjadi motivasi bahwa jarak dari pusat kota, keterbatasan fasilitas, maupun latar belakang pendidikan tidak semestinya menghalangi anak daerah untuk bermimpi, berkarya, dan berprestasi.
*Red/Rilis
Dukung kami melalui donasi:



