Opini
Beranda » Cermin Retak Media Sosial: Menemukan Dirinya di Tengah Distorsi Standar Kecantikan

Cermin Retak Media Sosial: Menemukan Dirinya di Tengah Distorsi Standar Kecantikan

Ilustrasi perempuan menghadapi standar kecantikan dan tekanan penampilan di media sosial.

Media sosial telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, dan memperoleh informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga menghadirkan persoalan sosial berupa distorsi standar kecantikan. Berbagai foto dan video yang telah melalui proses penyuntingan, penggunaan filter, serta algoritma digital membentuk gambaran kecantikan yang sering kali tidak mencerminkan realitas.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kecantikan perlahan dipersempit menjadi standar visual tertentu. Seseorang dapat merasa kurang percaya diri ketika membandingkan dirinya dengan figur yang ditampilkan di media sosial. Padahal, setiap individu memiliki karakteristik fisik yang beragam dan tidak seharusnya dinilai berdasarkan satu ukuran kecantikan.

Secara ilmiah, persoalan ini berkaitan dengan social comparison theory atau teori perbandingan sosial yang dikemukakan Leon Festinger (1954). Teori tersebut menjelaskan bahwa individu cenderung mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Dalam konteks media sosial, paparan berulang terhadap konten kecantikan yang telah dikurasi dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri.

Oleh karena itu, persoalan standar kecantikan bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan juga berkaitan dengan kesehatan mental, identitas, dan konstruksi sosial terhadap perempuan. Media sosial seharusnya menjadi ruang pemberdayaan, bukan tempat yang menciptakan tekanan untuk memenuhi standar tertentu.

Menemukan diri di tengah distorsi standar kecantikan berarti membangun kesadaran kritis bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penilaian visual maupun jumlah apresiasi digital. Kecantikan seharusnya dimaknai secara inklusif, dengan menghargai keberagaman dan keunikan setiap individu.

Nikah Muda: Tren Anak Muda atau Pilihan Hidup?

Pada akhirnya, cermin media sosial tidak selalu memantulkan kenyataan. Karena itu, kita perlu belajar mengenali diri sendiri, bukan sekadar mengikuti bayangan yang dibentuk oleh dunia digital.


Penulis: RASTI
KADER HMI WATI MAMUJU TENGAH


Editor: Muh. Abdan Masykur

Menikah Muda: Sudah Siap atau Sekadar Ingin?