Perbandingan antara masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto belakangan semakin sering muncul di ruang publik.
Di media sosial, obrolan warganet tidak lagi sekadar membahas politik atau pendukung masing-masing tokoh, tetapi mulai masuk ke hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, daya beli, sampai pertanyaan sederhana seperti, “dulu lebih enak atau sekarang?”
Menariknya, situasi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Saat masih menjabat, Jokowi juga tidak lepas dari kritik. Isu utang negara, proyek infrastruktur, berbagai kebijakan kontroversial, hingga persoalan ekonomi berkali-kali menjadi bahan perdebatan.
Namun politik sering memiliki pola yang unik. Ketika pemimpin berganti, cara publik melihat masa lalu juga ikut berubah.
Karena itu, pertanyaan yang muncul sebenarnya bukan sekadar siapa yang lebih baik. Yang lebih menarik justru mengapa perbandingan seperti ini bisa terus muncul.
Persepsi Publik Sering Dipengaruhi Kondisi yang Sedang Dirasakan
Dalam dunia politik, cara masyarakat menilai pemimpin tidak selalu berangkat dari angka statistik atau laporan ekonomi. Hal yang paling sering memengaruhi penilaian justru pengalaman sehari-hari.
Ketika harga kebutuhan terasa naik, pekerjaan semakin sulit dicari, atau tekanan ekonomi makin terasa, masyarakat biasanya mulai membandingkan dengan masa sebelumnya.
Situasi yang dulu banyak dikritik bisa tiba-tiba terlihat lebih stabil dibanding kondisi hari ini.
Fenomena seperti ini bukan hal baru. Di banyak negara, mantan pemimpin sering mengalami apa yang disebut sebagai “nostalgia politik”.
Ketika masyarakat menghadapi tantangan baru, masa lalu kadang terlihat lebih baik dibanding saat itu dijalani.
Masalahnya, ingatan publik juga punya keterbatasan. Orang cenderung mengingat hal yang paling terasa dan melupakan bagian lain yang juga penting.
Jika hanya mengingat sisi baik sambil mengabaikan masalah yang pernah ada, perbandingan menjadi kurang utuh.
Membandingkan Dua Era Tidak Sesederhana Membandingkan Dua Nama
Banyak orang membandingkan dua pemimpin seolah keduanya bermain di situasi yang sama. Padahal kondisi yang dihadapi setiap pemerintahan bisa sangat berbeda.
Jokowi misalnya menghadapi pandemi COVID-19 yang mengguncang hampir seluruh dunia. Dampaknya bukan hanya kesehatan, tetapi juga ekonomi, lapangan kerja, hingga aktivitas sosial masyarakat.
Sementara pemerintahan Prabowo menghadapi tantangan lain seperti tekanan ekonomi global, dinamika geopolitik internasional, konflik dunia, nilai tukar, hingga ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung.
Artinya, kondisi yang dirasakan masyarakat hari ini tidak sepenuhnya dibentuk oleh satu sosok. Ada faktor eksternal yang ikut memengaruhi keadaan.
Kesalahan yang sering muncul dalam perdebatan publik adalah membuat kesimpulan terlalu sederhana. Harga naik langsung dianggap pemimpin gagal.
Harga turun langsung dianggap pemimpin berhasil. Padahal realitas ekonomi dan politik jauh lebih rumit dibanding rumus sesingkat itu.
Media Sosial Membuat Persepsi Bergerak Lebih Cepat
Di era digital, opini publik bisa berubah dalam hitungan jam. Potongan video pendek, kutipan singkat, atau unggahan viral sering kali lebih cepat memengaruhi persepsi dibanding laporan panjang atau data resmi.
Akibatnya, perbandingan Jokowi dan Prabowo sering bergerak di wilayah emosi. Satu pernyataan dipotong, satu kebijakan disederhanakan, lalu berkembang menjadi kesimpulan besar.
Media sosial juga membuat orang lebih mudah menemukan informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. Pendukung satu tokoh akan lebih sering menemukan narasi yang memperkuat pandangannya, sementara informasi yang bertentangan cenderung diabaikan.
Hal itu membuat diskusi politik perlahan bergeser. Yang awalnya soal evaluasi kebijakan, sering berubah menjadi pertarungan identitas dan loyalitas kelompok.
Perdebatan soal “Era Jokowi vs Era Prabowo” kemungkinan masih akan terus berlangsung. Namun ukuran kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada rasa rindu terhadap masa lalu atau kekecewaan terhadap keadaan sekarang.
Yang lebih penting adalah melihat konteks, tantangan yang dihadapi, serta dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Karena dalam politik, persepsi bisa berubah cepat, tetapi realitas kehidupan sehari-hari biasanya jauh lebih sulit dibantah.
Penulis: Rahmadanu Prasetyo
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Pamulang (UNPAM)
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR
Dukung kami melalui donasi:



