Belakangan ini media sosial, khususnya TikTok, diramaikan oleh lagu viral berjudul “MBG (Mas Bahlil Ganteng)”. Lagu tersebut memiliki lirik yang sederhana, unik, dan mudah diingat sehingga cepat menyebar ke berbagai platform digital.
Tidak sedikit pengguna media sosial yang menggunakan lagu tersebut sebagai latar video hiburan, meme, hingga konten parodi.
Dalam waktu singkat, lagu ini berhasil menarik perhatian publik dan menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan di internet.
Fenomena tersebut menarik untuk dikaji dari sudut pandang komunikasi politik. Pasalnya, sosok yang menjadi objek utama dalam lagu tersebut adalah Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Meski lagu ini lahir dari kreativitas dan candaan netizen, penyebarannya yang begitu luas menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap citra politik seorang tokoh publik.
Apakah viralnya lagu tersebut dapat memengaruhi cara masyarakat memandang Bahlil Lahadalia?
Dalam kajian komunikasi politik, citra merupakan persepsi atau gambaran yang terbentuk dalam pikiran masyarakat terhadap seorang tokoh.
Citra dapat terbentuk melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari pemberitaan media massa, pidato politik, program kerja, hingga interaksi yang terjadi di media sosial.
Di era digital seperti sekarang, proses pembentukan citra tidak lagi sepenuhnya berada di tangan tokoh politik atau media konvensional.
Masyarakat juga memiliki peran besar dalam menciptakan dan menyebarkan narasi mengenai figur publik.
Fenomena lagu MBG menunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah cara masyarakat mengenal tokoh politik.
Jika dahulu seorang pejabat lebih banyak dikenal melalui pemberitaan televisi atau surat kabar, kini media sosial mampu memperkenalkan seorang tokoh melalui konten hiburan yang ringan dan mudah dikonsumsi.
Dalam konteks ini, lagu viral menjadi salah satu bentuk komunikasi yang mampu menjangkau audiens secara luas dalam waktu yang relatif singkat.
Menariknya, lagu MBG tidak muncul dari strategi komunikasi resmi maupun kampanye politik yang dirancang secara profesional.
Lagu tersebut lahir dari kreativitas pengguna media sosial yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengubah komentar-komentar netizen menjadi sebuah lagu yang menarik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa produksi pesan komunikasi di era digital semakin terbuka dan tidak lagi didominasi oleh institusi besar atau aktor politik tertentu.
Dari sisi komunikasi politik, viralnya lagu MBG dapat memberikan keuntungan berupa meningkatnya tingkat pengenalan publik terhadap Bahlil Lahadalia.
Dalam dunia politik modern, dikenal oleh masyarakat merupakan modal yang penting karena publik cenderung lebih mudah mengingat figur yang sering muncul dalam ruang komunikasi.
Semakin sering nama seorang tokoh muncul di media sosial, semakin besar pula peluang masyarakat untuk mengenalnya.
Namun, popularitas tidak selalu identik dengan citra positif. Ada perbedaan mendasar antara dikenal dan dihargai karena kapasitas atau kinerja.
Lagu MBG memang membuat nama Bahlil semakin akrab di telinga masyarakat, tetapi alasan utama publik membicarakannya lebih banyak karena unsur hiburan dan kelucuan yang terkandung dalam lagu tersebut.
Akibatnya, sebagian masyarakat mungkin mengenal Bahlil sebagai sosok yang sedang viral, bukan sebagai pejabat yang memiliki kebijakan atau program tertentu.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya digital sering kali mengubah figur politik menjadi bagian dari budaya populer.
Di media sosial, perhatian publik sering kali lebih mudah diperoleh melalui humor, meme, atau konten yang menghibur dibandingkan pembahasan kebijakan yang kompleks.
Akibatnya, batas antara komunikasi politik dan hiburan menjadi semakin tipis. Tokoh politik tidak hanya dinilai berdasarkan gagasan dan program kerjanya, tetapi juga berdasarkan bagaimana mereka hadir dan dibicarakan dalam ruang digital.
Di sisi lain, fenomena MBG juga menunjukkan bahwa netizen memiliki kekuatan yang besar dalam membentuk persepsi publik.
Melalui kreativitas yang dimiliki, masyarakat dapat menciptakan pesan komunikasi yang kemudian menyebar secara luas dan memengaruhi cara orang lain memandang seorang tokoh.
Dalam kondisi seperti ini, tokoh politik tidak selalu menjadi pengendali utama atas citra dirinya sendiri. Sebaliknya, citra tersebut dapat berkembang mengikuti narasi yang dibangun oleh masyarakat di media sosial.
Dari perspektif komunikasi politik, pengaruh lagu “Mas Bahlil Ganteng” terhadap citra Bahlil Lahadalia dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, lagu tersebut berhasil meningkatkan popularitas dan membuat namanya semakin dikenal oleh masyarakat luas, termasuk kalangan yang sebelumnya tidak mengikuti perkembangan politik nasional.
Kehadiran namanya secara berulang dalam berbagai konten media sosial membuat tingkat pengenalan publik terhadap sosok Bahlil meningkat secara signifikan.
Namun di sisi lain, popularitas yang terbentuk lebih banyak berasal dari unsur humor, meme, dan hiburan digital daripada diskusi mengenai gagasan, kebijakan, maupun kinerja politiknya.
Situasi ini menunjukkan bahwa tingginya tingkat pengenalan publik belum tentu sejalan dengan terbentuknya citra politik yang kuat berdasarkan substansi, karena perhatian masyarakat dapat lebih terfokus pada fenomena viral dibandingkan kapasitas seorang tokoh sebagai pejabat publik.
Fenomena lagu MBG menjadi contoh menarik tentang bagaimana komunikasi politik terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan budaya digital.
Di era TikTok dan kecerdasan buatan, citra politik tidak lagi dibentuk hanya melalui pidato, iklan, atau pemberitaan media massa. Konten yang dibuat oleh masyarakat biasa pun dapat menjadi faktor yang memengaruhi persepsi publik terhadap seorang tokoh.
Karena itu, viralnya lagu “Mas Bahlil Ganteng” bukan hanya sekadar hiburan internet, tetapi juga menunjukkan bagaimana media sosial telah menjadi ruang baru dalam pembentukan citra politik di Indonesia.
Penulis: Zulfa Fitri Hairani
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar
Editor: M. Abdan Msykur
Bahasa: Darsono. AR
Dukung kami melalui donasi:



